Parijs van Soematra : Identitas Kota Medan
PARIJS VAN SOEMATRA : Identitas Kota Medan
Oleh
Arkini Sabrina
Pengantar
Asal mula sejarah terbentuknya kota di Indonesia
banyak dipengaruhi oleh kepentingan pemerintah kolonial Belanda. kemudian,
pemerintah kolonial membentuk pusat pemerintahan yang bercirikan ‘indisch’.
Dengan masuknya bangsa Belanda, maka struktur kota mengalami investasi fisik
antara lain berupa pemetaan kawasan kota dengan dasar politik segregasi etnik
Eropa, Asia, dan pribumi, tempat masing-masing kawasan dikembangkan, dan
pengelompokan bangunan berdasarkan jenisnya. Salah satu kota yang dibangun oleh
Belanda adalah Kota Medan.
Medan dahulu hanyalah sebuah kampung yang
bernama Medan Putri, yang kemudian oleh Nienhuys dibangun kantor perusahaan
perkebunan tembakaunya yaitu Deli Maatschappij. Walaupun wilayahnya menjauhi
kota Labuhan, namun disekeliling kampung ini yang masih hutan belukar
berpotensi besar bagi perluasan kebun-kebun tembakau. Selain itu, kampung ini
juga menjadi tempat berkumpulnya orang-orang Labuhan dan Deli Tua untuk
berdagang dan bertukar barang pada waktu-waktu tertentu. Posisinya yang strategis
menjadi alasan bagi Nienhuys untuk memilih Medan Putri sebagai pusat
kebun-kebun tembakaunya.
Kota Medan terus berkembang seiring dengan
perkembangan perkebunan yang menghasilkan satu komoditi ekspor utama untuk
pasar Eropa. Yang menjadi simbol dari koloni ini adalah Tembakau Deli. Tanaman
yang digunakan untuk pembungkus cerutu menjadi surga bagi pengusaha perkebunan
tembakau di Tanah Deli.
Kemakmuran itulah yang menjadikan koloni
tersebut memiliki gedung-gedung berarsitektur Eropa dan infrastruktur jalan
yang terbuka rapih. Sebagai sebuah kota koloni yang mulanya hanya disiapkan
untuk menghasilkan pembangunan koloni kebun, kini menjadi sebuah kota dengan
arsitektur dan kehidupan bergaya Eropa, sehingga menimbulkan rasa bangga dan
kepercayaan diri pada keberhasilan Holland dikoloni tersebut.
Keberhasilan koloni perkebunan di pantai timur Sumatera sedikit banyak
mengangkat gengsi orang-orang Holland yang berada diwilayah
tersebut. Perkembangan kota Medan serta fasilitas-fasilitas maka terlahirlah
julukan Parijs van Soematra. Parijs van Soematra sendiri
tercermin dari bangunan-bangunan kolonial dengan arsitektur kota bergaya Eropa
serta budaya . Menurut data dari BWS (Badan Warisan Sumatera) terdapat 800
bangunan peninggalan kejayaan bangsa kolonial di Kota Medan. Bangunan
arsitektur Eropa yang hadir ditengah-tengan peradaban Malayu membawa kota
kolonial ini menjadi unik untuk dikaji. Namun, seiring dengan perkembangan kota
Medan ini menyebabkan Parijs van Soematra kian hari kian
memudar, sehingga dapat mengakibatkan hilangnya karakter serta identitas kota
ini.
Lahirnya Julukan Parijs van Soematra Sebagai Identitas Kota Medan
Parijs merupakan sebuah kota indah yang amat
sangat disegani dan menjadi ratu di daratan Eropa bagian barat, hal ini dapat
dilihat dari arsitektur dan budaya kota yang memang harus diakui sebagai sebuah
kota yang dikagumi. Sedangkan Parijs van Soematra tentu saja
tidak seperti Parijs di Prancis. Nama Parijs van Soematra tidak
ada yang tau pasti, karena sebuah kata pujian biasanya beredar dalam bentuk
lisan dan berkembang kemudian sebagai sebuah tradisi yang diucapkan dari mulut
ke mulut, yang bisa jadi benar secara fakta tapi belum tentu benar secara
makna. Tapi, kota yang dipuji sebagai Parijs van Soematra itu
belum tentu identik, atau paling tidak sedikit menyerupai Parijs di Eropa[1].
Sebelum hadirnya julukan Parijs van
Soematra, telah ada daerah lain yang mendapat julukan sebagai Parijs, yakni
Bandung. Dengan iklim yang sejuk, pemandangan alam yang indah, gedung-gedung
berasitektur Eropa yang ditata rapi, serta ditambah dengan Technische
Hooge School te Bandoeng, sudah cukup bisa meyakinkan untuk menyetujui
Bandung sebagai Parijs van Java[2].
Medan memang tidak sama dengan Bandung Parijs
van Java, sehingga sulit bagi Medan untuk mendapat pangakuan dari luar
dirinya sendiri sebagai sebuah kota yang pernah menjadi Parijs di
Soematra. Keterbatasan publikasi berita-berita sejarah tentang Medan Tempo
Doeloe serta berita yang lebih menitik beratkan pada kisah koloni perkebunan.
Nama Parijs van Soematra cenderung menunjukkan pada gaya hidup
dan segala keberhasilan para pengusaha onderneming. Sehingga, pada
mulanya nama ini adalah milik para elite onderneming tembakau.
Baru belakang setelah koloni kebun makmur ini dijadikan ibukota residen koloni
Sumatera Timur, serta ibukota baru bagi Sultan Deli, keadaan berubah menjadi
demikian ramai. Nama ini mulai tersebar luas tidak hanya dikalangan tuan kebun
dan pegawai onderneming[3], melainkan
juga kalangan elite bangsawan lokal, elite birokrat kolonial, serta para
juragan Timurr Asing[4].
Pada tahun 1883 Deli Spoorweg
Maatschappij (DSM) membangun jalur kereta api Belawan-Medan-Deli
Tua-Binjai dengan tujuan mempercepat akses jalan darat yang digunakan untuk
kepentingan perusahaan perkebunan. Pada tahun yang sama Deli
Maatschappij juga telah mempelopori pembangunan jalan raya di Sumatera
Timur. Akibatnya, pola transportasi sungai yang secara tradisional telah
digunakan oleh Sultan dan rakyatnya telah bergeser menjadi kearah daratan
dengan menggunakan jalan raya dan rel kereta api.
Pada tahun 1928 Medan telah memiliki lapangan
terbang yang letaknya diatas bekas konsesnsi perkebunan Polonia dan pada tahun
yang sama, dermaga di Pelabuhan Belawan telah dapat digunakan untuk berlabuhnya
kapal-kapal besar[5]. Akses untuk wilayah Kota
Medan menjadi sangat mudah, pembangunan jalur tranportasi baik darat, udara
maupun laut sudah sangat memadai sebagai kota internasional.
Pusat kawasan kota bagi Medan adalah Esplanade.
Sebuah lapangan rumput berbentuk persegi yang dikelilingi oleh jalan raya.
Disekitar Esplanade berdiri Medan Stadhuis, De Javasche Bank,
Hotel De Boer, Kantor Pos Besar, Station Besar Kereta Api, dan beberapa kantor
perusahaan perkebunan. Konon kabarnya titik nol kilometer Medan juga berada
disini, yang diwujudkan dalam bentuk air mancur dan patung seorang Holland.
Patung itu mulai berada di Depan Kantor Pos Besar sejak 1915. Jika melihat
sosok patung tersebut yang ternyata Jacobus Nienhuys, sebagai seorang Holland yang
pertama kali membuka kebun tembakau di Sumatera Timur[6].
Medan telah memiliki kelengkapan infrastruktur
yang memadai sebagai sebuah kotapraja. Jalan-jalan di kota ini telah diaspal
dan diberi penerangan listrik. Sebagai sebuah ibukota keresidenan, ia sudah
lebih cukup dari segi infrastruktur dibandingkan kota-kota lain di Sumatera
pada masa itu[7]. Fasilitas-fasilitas ini
sengaja dibangunan untuk menunjang keberadaan onderneming-onderneming di
kota Medan sebagai pusat perkebunan di Sumatera Timur. Berdirinya
bangunan-bangunan ini memberi kesan keindahan, ketertiban, kebersihan,
ketentraman, dan tata kota yang teratur pada zaman dahulu membuat kota Medan
mendapat julukan Parijs van Soematra[8].
v Medan Stadhuis
Gedung yang memiliki jam dinding besar pada
dinding bagian atas bangunan berada tepat bersebelahan dengan Javasche
Bank digunakan oleh Walikota Medan yakni Baron Daniel Mackay.
Arsitektur bangunan ini dipengaruhi gaya zaman Renaisance dengan
dominasi warna putih menambah kemegahan bangunan kokoh ini. Pada bangunan ini
lantai dasar bangunan terletak dibawah tanah. Gedung ini biasanya digunakan
oleh pemerintahan Belanda sebagai gedung pertemuan untuk para petinggi Belanda
yang berada di Medan.
v Kantor De Javasche Bank
Bangunan ini persis bersebelahan dengan kantor
Medan Stadhuis disebelah kiri, dan bersebelahan dengan Hotel De Boer sebelah
kanan. Kantor De Javasche Bank memiliki bentuk bangunan segi
empat gaya colonial empire. Bangunan ini menggambarkan
arsitektur yang kelihatan sangat dipengaruhi oleh gaya kolonial yang sangat
banyak digunakan orang Inggris di negeri-negeri jajahannya. bangunan ini
didesain oleh Cuypers dan Hulswit tahun 1908.
De Javasche Bank merupakan bank cabang milik Belanda di Jawa
yang digunakan untuk mensosialisasikan mata uang Gulden milik Belanda.
Keindahan bangunan Javasche Bank yang didominasi dengan warna
putih ini menggunakan gaya colonial empire dengan ciri-ciri
bangunan berbentuk simetris dengan garis-garis horizontal sepanjang dinding.
v Hotel de Boer
Bangunan hotel ini merupakan sebuah hotel yang
didalamnya terdapat bar dan restoran mewah di masa pemerintahan Belanda dimana
para pengusaha perkebunan dan pemerintah kolonial Belanda menikmati hidup
gemerlap di Kota Medan. Hotel De Boer dibangun tahun 1909,
nama hotel ini sesuai dengan nama pemiliknya yaitu Herman De Boer. Hotel ini
terdiri dari 2 lantai yang terdiri dari sebuah restaurant, sebuah
bar dan tujuh ruang tamu, serta hotel pertama kali di Asia Tenggara yang
kamarnya memakai kawat nyamuk. Hotel ini berdiri atas jasa arsitek bernama C.
Boon dengan arsitektur bergaya Classic sehingga memberi kesan
kemegahan, dan bangunan ini menjadi bukti gaya hidup orang-orang Eropa di Kota
Medan.
v Kantor pos
Bangunan ini didesain oleh Snuyf, Direktur
Jawatan Pekerjaan Umum Belanda untuk Kesultanan Deli, yang mulai dibangun pada
1909 hingga 1911 sesuai dengan tulisan “ANNO 1911” pada dinding bagian samping
kiri dan kanan sebagai bukti kelahiran bangunan peninggalan Belanda tersebut.
Desain bangunannya sendiri dikenal dengan nama arsitektur modern fungsional dan
diperkirakan merupakan bangunan pertama yang menggunakan arsitektur geometris
di Medan. Bangunan dengan gaya arsitektur neo classic berbentuk
sangkar burung memiliki jasa amat penting bagi dunia surat menyurat pada saat
itu.
v Deli Spoorweg Maatschappij
Stasiun Kereta Api yang dibangun oleh Thomas
Karsten merupakan fasilitas penting yang sangat memberi kontribusi yang sangat
berarti bagi perkembangan kota Medan. Renovasi terbesar dilakukan pada tahun
1939 yang dilakukan adalah pengurangan bagian yang tidak dirasa diperlukan
(fungsional saja) serta penambahan menara jam setinggi 20 m, sebagai penanda
bangunan, serta sekaligus cerobong ventilasi udara, dengan jam yang menunjukkan
waktu keberangkatan kereta kepada penumpang.
v Kantor Perusahaan Stoomvaart Maatschappij Nederland
Bangunan ini berhadapan langsung dengan gedung
kantor perkebunan Inggris Harrisons & Crosfield. Keberhasilan penanaman
tembakau di Sumatera Timur turut mendorong perusahaan-perusahaan di bidang
pelayaran. Seperti Jakarta Lloyd yang pada saat didirikan adalah Kantor
Perusahaan Pelayaran The Netherlands Shipping Company. Bangunan ini
merupakan hasil karya dari seorang arsitek bernama C.Boon dengan
arsitektur neo classic awalnya merupakan kantor perusahaan
kapal uap Belanda (Stoomvaart Maatschappij Nederland).
v Kesawan (Rumah-Rumah Tua)
Kawasan ini adalah kawasan Eropa dan menjadi
sebuah kampung tempat persinggahan para pedagang yang datang untuk berdagang
dan menyabung ayam, semua kegiatan dilakukan disana. Tempat ini merupakan
kawasan sentral penduduk yang berasal dari Serdang yang akan menuju ke Sunggal
atau dari Percut ke Hampaaran Perak, bahkan dari Labuhan ke Deli Tua. Kawasan
Eropa inilah yang kemudian berkembang menjadi Kesawan, seiring perkembangan
waktu, permukiman etnis Cina banyak mendominasi wilayah tersebut dan dijadikan
kawasan bisnis Tahun 1918.
Kantor Perkebunan Inggris Harrisons & Crosfield
Bangunan yang letaknya persis berhadapan
dengan Esplanade didirikan pada tahun 1914 oleh pemerintah
Belanda. Arsitektur bangunan banyak dipengaruhi gaya kolonial Inggris, bahan
bangunan lantai tegel, dinding batubata, atap genteng, tiang beton bertulang.
Batu-batu granit yang menghiasi gedung didatangkan dari Eropa. Gedung ini
merupakan bangunan pertama di Kota Medan yang memakai lift sejak tahun 1910
berbentuk sangkar besi yang dihiasi motif bunga-bunga dengan dekorasi art
deco.
v Warenhuis
Bangunan ini merupakan sebuah pusat perbelanjaan
bagi orang Belanda, didirikan pada tanggal 16 Februari 1919 oleh Walikota Medan
pertama Daniel Baron Mackay. Angka tahun pendirian ini tertulis pada bagian
tembok bangunan. Arsitek bangunan ini adalah G. Bos. Bangunan ini dikenal
sebagai Medan Warenhuis, sebuah pusat perbelanjaan untuk orang
Belanda yang tinggal di Medan pada masa Kolonial. Bangunan ini dilengkapi oleh
sebuah menara tepat disudut dan dua menara lainnya pada sayap kiri dan kanan
bangunan, suatu ide rancangan yang dipengaruhi oleh gaya renaissance.
Pada Lantai dua, terdapat balkon dengan balustrade yang
dekoratif.
v Kantor Nederlanshe Handel Maatschappij
Bangunan ini dibangun pada tahun 1924 untuk
kantor “Nederlanshe Handel Maatschappij”, dan pada masa penjajahan
Jepang gedung ini dipakai sebagai kantor “Gunseikambu”. Bangunan ini
dibangun oleh pemerintah Belanda dengan seorang arsitek bernama Van Oywend
dibuat tipikal dengan bangunan yang berlanggam modern style seperti
bangunan yang bergaya Eropa.
v Villa Milik Deli Spoorweg (DSM)
Bangunan yang berdiri sebagai villa milik Deli
Spoorweg (DSM). Desain bangunan ini dengan arsitektur Hindia yang menunjukkan
struktur dinding sangat kuat terbuat dari batu-bata. Dinding depan terdapat
yang masif dan tebal yang diletakkan dengan dua pilar klasik, membentuk pintu
masuk yang khas. bangunan ini memperlihatkan sistem bangunan tertutup
sebagaimana terdapat di negara-negara Eropa dan tidak beradaptasi dengan iklim
tropis kecuali penempatan ventilasi atap dibagian atas bangunan. Bangunan ini
didominasi dengan warna putih dan terdapat penambahan kubah atap yang memiliki
ciri khas yang didesain dengan bentuk istana-istana Melayu Deli.
v Gedung Varekamp & Co
Bangunan ini didirikan pemerintah kolonial
Belanda pada tahun 1921. Gedung Varekamp & Co ini memang
sengaja dikonstruksi sebagai gedung yang fungsional, dan terdapat kantor
penerbit, toko buku dan percetakan. Bangunan ini dibuat dengan desain art
deco, dimana pembangunanya mengunakan material seperti metal, kaca, bakelit
dan plastik.
v Water Leiding Maatschappij Ajer Bersih
Di tahun 1886 kebutuhan air bersih dikelola oleh
sebuah perusahaan partikelir yang bernama NV. Water Leiding
Maatschappij Ajer Bersih yang berpusat di Amsterdam, Belanda. Bak
penyimpan Air bersih ini dibangun pada tuhun 1908 oleh perusahaan swasta
Belanda, yang sudah beroperasi mengalirkan air minum penduduk Medan dari Tanah
Karo sejak tahun 1883. Bangunan fungsional ini dirancang oleh arsitek asal
Italia dengan arsitektur bergaya colonial empire.
v Gedung BKS-PPS (AVROS)
Avros yang disebut dengan penamaan bahasa
Belanda (Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van
Sumatera atau asosiasi Pemilik Perkebunan Karet di Pantai Timur
Sumatera). Gedung ini didirikan tahun 1918-1919 oleh GH. Mulder. Angka
tahun pendiriannya ini tertulis didinding bagian atap. Bangunan ini
dipergunakan untuk gedung AVROS. Terdapat kubah diatas gedung ini, kubah itu
merupakan jam yang masih bekerja dengan setia mesin jam bermerek “Netherlandschefabriek
Torenuurwerken B. Eijsbouts – Asten” dan baru dipasang pada 1920.
Selain disekitaran Esplanade, juga
terdapat banyak bangunan kolonial yang tersebar diberbagai wilayah seperti
Gereja Immanuel, Medansche Zwem Vereeniging, Gedung AVROS Proefstation, Deli
Proef Station, Gereja Gereformeerd, kantor Nederlandsche
Indische Levenverzekering en Lijvrente Maatschappij (NILLMIJ), Rumah
Dinas Gubernur Sumatera Utara, Handels Vereniging Amsterdam, rumah
City Major (Burgermaster), Rumah Sakit Tembakau Deli, sekolah
Pangeran Beatriz (Princess Beatrix School), gedung Lanraad
dan Raad Van Justitie, gedung Bioscoop Scala, dan lain
sebagainya yang menjadi bukti hadirnya julukan Parijs van
Soematra yang disandingkan untuk Kota Medan. Berdirinya
bangunan-bangunan kokoh di wilayah Medan menjadi icon kota yang menarik dengan
rancangan arsitertur-arsitektur yang telah memiliki reputasi Internasional pada
masa itu. Pembangunan gedung diarahkan ke daerah Esplanade menjadi
titik tumpu yang mampu menghadirkan bangunan yang indah bergaya Eropa, hal ini
menjadi ciri khas kota kolonial sehingga Medan pernah mendapat julukan Parijs
van Soematra. Identitas Kota Medan yang tidak dapat dilepas dari
bangunan-bangunan memorial sejarah bergaya Eropa.
Memudarnya Parijs van Soematra Sebagai Identitas
Kota Medan
Julukan Parijs van Soematra tersebut
sekarang hilang hanya tinggal kenangan. Sangat bertolak belakang bila kita
membandingkan kondisi dahulu dengan kondisi sekarang. Ketimpangan bangunan,
jalanan, kebersihan lingkungan, dan kondisi tiga sungai besar selaku urat nadi
yang ada di Kota Medan begitu memprihatinkan dan tidak bisa dibanggakan.
Rasanya begitu berat membangkitkan ruh dan kharisma Kota Medan sebagai Parijs
van Soematra tempo dulu di masa kini. Pengguna bangunan-bangunan
tersebut hanya sekedar menempati, namun tidak merawatnya. Inilah yang kemudian
mengakibatkan semakin banyaknya bangunan peninggalan era kolonial Belanda yang
menjadi identitas Kota Medan hilang satu per satu. Selain bangunan, beberapa
kawasan bersejarah khususnya di sekitar pusat kota Medan juga dibiarkan
terbengkalai.
Memudarnya Parijs van Soematra disebabkan
oleh faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal yang
menyebabkan Parijs van Soematra mulai memudar yakni faktor
kelemahan bawaan yang menyatu dalam bangunan atau warisan budaya. Itu berkenaan
dengan bahan, sistem pembangunan (desain dan teknologi), tanah dan lokasi
geotopografis dan iklim setempat, yang semuanya mengakibatkan terjadinya
kerusakan dan pelapukan. Selain faktor internal, faktor eksternal juga
mempengaruhi memudarnya Parijs van Soematra berupa faktor
lingkungan yang mencakup ulah manusia, pengaruh urbanisasi dan globalisasi,
bencana alam. Mordenisasi melanda perkembangan kota, baik fisik maupun non
fisik, telah memberikan dampak positif bagi peningkatan disektor ekonomi dan
jasa namun hal itu juga banyak membawa pengaruh nyata bagi kehidupan
masyarakatnya.
Perubahan perkembangan yang dialami secara tidak
langsung akan menciptakan kondisi yang tidak terkendali atas objek-objek
warisan budaya. Hal ini terlihat pada perubahan tata lahan, perubahan tata
bangunan, dan perubahan pemanfaatan lahan. Perubahan yang muncul akibat
tambahan perkembangan ekonomi yang tidak teratur dan tidak kendali dapat
menghilangkan karakter atau citra suatu kawasan. Kurangnya pemahaman atau
perhatian masyarakat dan pengelola akan pentingnya pelestarian telah
menyebabkan objek warisan budaya tidak terawat sehingga mempercepat proses
kerusakan. Begitupun dengan unsur kesengajaan dengan membiarkannya kotor untuk
tujuan tertentu. Pada umumnya koordinasi antara instansi terkait dengan
kalangan akademis serta masyarakat bagi penanganan objek-objek budaya kurang
baik, sehingga tidak mengherankan bila kebanyakan daerah belum menyusun rencana
ini.
Pembangunan Kota Medan yang tidak didasari
konsep city heritage menyebabkan bangunan-bangunan bersejarah
peninggalan bangsa kolonial terabaikan. Saat initerdapat beberapa gedung yang
telah dirubuhkan yakni gedung Mega Eltra yang dibangun pada tahun 1912 dan pada
tahun 2002 bangunan ini dirubuhkan setelah pihak Mega Eltra menjual kepada
pihak swasta dan selanjutnya dibangun pusat perbelanjaan modern. Selanjutnya
gedung Eka Bank Modern yang dibangun pada tahun 1929 yang kemudian berubah
total bentuk dari 2 lantai menjadi ruko lima lantai. Dan saat ini bangunan
Rumah Sakit Deli telah dirubuhkan sebagian setelah bangunan ini dijual pada
pihak swasta.
DAFTA PUSTAKA
Avan, Alexander. 2012. Parijs van
Soematra. Medan : Rainmaker Publishing.
Jan Breman. 1997. Menjinakan Sang Kuli: Politik Kolonial,
Tuan Kebun, dan Kuli Di Sumatera Timur pada Awal Abad Ke-20. Jakarta:
Pustaka Utama Grafitti dan KITLV.
Nurhamidah. 1983. Medan Pada Masa
Pemerintahan Geemente. Skripsi. Medan: Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra,
Universitas Sumatera Utara.
Pradityo, Rahardian. 2013. PARIJS VAN
SOEMATRA (Arsitektur Konseptual). Skripsi. Medan: Departemen
Arstektur, Fakultas Tehnik, Universitas Sumatera Utara.
Said, Muhammad. 1977. Koeli Kontrak
Tempo Doeloe; Dengan Derita dan Kemarahannya. Medan: Waspada, 1977.
Sinar, Tengku Luckman. 2001. Sejarah Medan Tempoe Doloe.
Medan. Perwira.
Surapati, Syarifuddin. 2014. Sejarah
Bangunan-bangunan Bersejarah Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah di Kota Medan.
Skripsi. Medan; Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas
Negeri Medan.
[1] Alexander Avan. . Parijs
van Soematra. (Medan : Rainmaker Publishing. 2012) hlm. 17
[2] Ibid., hlm.
88
[3] Bahasa Belanda untuk
perusahaan. Yang dimaksud onderneming dalam tulisan ini yakni perusahaan perkebunan.
[4] Ibid., hlm.
23
[5] Avan, Alexander. Op.cit., hlm.
96
[6] Ibid., hlm.
92
[7] Ibid., hlm. 93
[8] Pradityo, Rahardian.
PARIJS VAN SOEMATRA (Arsitektur Konseptual). Skripsi. (Medan:
Departemen Arstektur, Fakultas Tehnik, Universitas Sumatera Utara. 2013), hlm.
18
Komentar
Posting Komentar