Parijs van Soematra : Identitas Kota Medan

PARIJS VAN SOEMATRA : Identitas Kota Medan

Oleh

Arkini Sabrina

Pengantar

            Asal mula sejarah terbentuknya kota di Indonesia banyak dipengaruhi oleh kepentingan pemerintah kolonial Belanda. kemudian, pemerintah kolonial membentuk pusat pemerintahan yang bercirikan ‘indisch’. Dengan masuknya bangsa Belanda, maka struktur kota mengalami investasi fisik antara lain berupa pemetaan kawasan kota dengan dasar politik segregasi etnik Eropa, Asia, dan pribumi, tempat masing-masing kawasan dikembangkan, dan pengelompokan bangunan berdasarkan jenisnya. Salah satu kota yang dibangun oleh Belanda adalah Kota Medan.

Medan dahulu hanyalah sebuah kampung yang bernama Medan Putri, yang kemudian oleh Nienhuys dibangun kantor perusahaan perkebunan tembakaunya yaitu Deli Maatschappij. Walaupun wilayahnya menjauhi kota Labuhan, namun disekeliling kampung ini yang masih hutan belukar berpotensi besar bagi perluasan kebun-kebun tembakau. Selain itu, kampung ini juga menjadi tempat berkumpulnya orang-orang Labuhan dan Deli Tua untuk berdagang dan bertukar barang pada waktu-waktu tertentu. Posisinya yang strategis menjadi alasan bagi Nienhuys untuk memilih Medan Putri sebagai pusat kebun-kebun tembakaunya.

Kota Medan terus berkembang seiring dengan perkembangan perkebunan yang menghasilkan satu komoditi ekspor utama untuk pasar Eropa. Yang menjadi simbol dari koloni ini adalah Tembakau Deli. Tanaman yang digunakan untuk pembungkus cerutu menjadi surga bagi pengusaha perkebunan tembakau di Tanah Deli.

Kemakmuran itulah yang menjadikan koloni tersebut memiliki gedung-gedung berarsitektur Eropa dan infrastruktur jalan yang terbuka rapih. Sebagai sebuah kota koloni yang mulanya hanya disiapkan untuk menghasilkan pembangunan koloni kebun, kini menjadi sebuah kota dengan arsitektur dan kehidupan bergaya Eropa, sehingga menimbulkan rasa bangga dan kepercayaan diri pada keberhasilan Holland dikoloni tersebut. Keberhasilan koloni perkebunan di pantai timur Sumatera sedikit banyak mengangkat gengsi orang-orang Holland yang berada diwilayah tersebut. Perkembangan kota Medan serta fasilitas-fasilitas maka terlahirlah julukan Parijs van Soematra. Parijs van Soematra sendiri tercermin dari bangunan-bangunan kolonial dengan arsitektur kota bergaya Eropa serta budaya . Menurut data dari BWS (Badan Warisan Sumatera) terdapat 800 bangunan peninggalan kejayaan bangsa kolonial di Kota Medan. Bangunan arsitektur Eropa yang hadir ditengah-tengan peradaban Malayu membawa kota kolonial ini menjadi unik untuk dikaji. Namun, seiring dengan perkembangan kota Medan ini menyebabkan Parijs van Soematra kian hari kian memudar, sehingga dapat mengakibatkan hilangnya karakter serta identitas kota ini.

 Lahirnya Julukan Parijs van Soematra Sebagai Identitas Kota Medan

Parijs merupakan sebuah kota indah yang amat sangat disegani dan menjadi ratu di daratan Eropa bagian barat, hal ini dapat dilihat dari arsitektur dan budaya kota yang memang harus diakui sebagai sebuah kota yang dikagumi. Sedangkan Parijs van Soematra tentu saja tidak seperti Parijs di Prancis. Nama Parijs van Soematra tidak ada yang tau pasti, karena sebuah kata pujian biasanya beredar dalam bentuk lisan dan berkembang kemudian sebagai sebuah tradisi yang diucapkan dari mulut ke mulut, yang bisa jadi benar secara fakta tapi belum tentu benar secara makna. Tapi, kota yang dipuji sebagai Parijs van Soematra itu belum tentu identik, atau paling tidak sedikit menyerupai Parijs di Eropa[1].

Sebelum hadirnya julukan Parijs van Soematra, telah ada daerah lain yang mendapat julukan sebagai Parijs, yakni Bandung. Dengan iklim yang sejuk, pemandangan alam yang indah, gedung-gedung berasitektur Eropa yang ditata rapi, serta ditambah dengan Technische Hooge School te Bandoeng, sudah cukup bisa meyakinkan untuk menyetujui Bandung sebagai Parijs van Java[2].

Medan memang tidak sama dengan Bandung Parijs van Java, sehingga sulit bagi Medan untuk mendapat pangakuan dari luar dirinya sendiri sebagai sebuah kota yang pernah menjadi Parijs di Soematra. Keterbatasan publikasi berita-berita sejarah tentang Medan Tempo Doeloe serta berita yang lebih menitik beratkan pada kisah koloni perkebunan. Nama Parijs van Soematra cenderung menunjukkan pada gaya hidup dan segala keberhasilan para pengusaha onderneming. Sehingga, pada mulanya nama ini adalah milik para elite onderneming tembakau. Baru belakang setelah koloni kebun makmur ini dijadikan ibukota residen koloni Sumatera Timur, serta ibukota baru bagi Sultan Deli, keadaan berubah menjadi demikian ramai. Nama ini mulai tersebar luas tidak hanya dikalangan tuan kebun dan pegawai onderneming[3], melainkan juga kalangan elite bangsawan lokal, elite birokrat kolonial, serta para juragan Timurr Asing[4].

Pada tahun 1883 Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) membangun jalur kereta api Belawan-Medan-Deli Tua-Binjai dengan tujuan mempercepat akses jalan darat yang digunakan untuk kepentingan perusahaan perkebunan. Pada tahun yang sama Deli Maatschappij juga telah mempelopori pembangunan jalan raya di Sumatera Timur. Akibatnya, pola transportasi sungai yang secara tradisional telah digunakan oleh Sultan dan rakyatnya telah bergeser menjadi kearah daratan dengan menggunakan jalan raya dan rel kereta api.

Pada tahun 1928 Medan telah memiliki lapangan terbang yang letaknya diatas bekas konsesnsi perkebunan Polonia dan pada tahun yang sama, dermaga di Pelabuhan Belawan telah dapat digunakan untuk berlabuhnya kapal-kapal besar[5]. Akses untuk wilayah Kota Medan menjadi sangat mudah, pembangunan jalur tranportasi baik darat, udara maupun laut sudah sangat memadai sebagai kota internasional.

Pusat kawasan kota bagi Medan adalah Esplanade. Sebuah lapangan rumput berbentuk persegi yang dikelilingi oleh jalan raya. Disekitar Esplanade berdiri Medan Stadhuis, De Javasche Bank, Hotel De Boer, Kantor Pos Besar, Station Besar Kereta Api, dan beberapa kantor perusahaan perkebunan. Konon kabarnya titik nol kilometer Medan juga berada disini, yang diwujudkan dalam bentuk air mancur dan patung seorang Holland. Patung itu mulai berada di Depan Kantor Pos Besar sejak 1915. Jika melihat sosok patung tersebut yang ternyata Jacobus Nienhuys, sebagai seorang Holland yang pertama kali membuka kebun tembakau di Sumatera Timur[6].

Medan telah memiliki kelengkapan infrastruktur yang memadai sebagai sebuah kotapraja. Jalan-jalan di kota ini telah diaspal dan diberi penerangan listrik. Sebagai sebuah ibukota keresidenan, ia sudah lebih cukup dari segi infrastruktur dibandingkan kota-kota lain di Sumatera pada masa itu[7].  Fasilitas-fasilitas ini sengaja dibangunan untuk menunjang keberadaan onderneming-onderneming di kota Medan sebagai pusat perkebunan di Sumatera Timur. Berdirinya bangunan-bangunan ini memberi kesan keindahan, ketertiban, kebersihan, ketentraman, dan tata kota yang teratur pada zaman dahulu membuat kota Medan mendapat julukan Parijs van Soematra[8].

v Medan Stadhuis

Gedung yang memiliki jam dinding besar pada dinding bagian atas bangunan berada tepat bersebelahan dengan Javasche Bank digunakan oleh Walikota Medan yakni Baron Daniel Mackay. Arsitektur bangunan ini dipengaruhi gaya zaman Renaisance dengan dominasi warna putih menambah kemegahan bangunan kokoh ini. Pada bangunan ini lantai dasar bangunan terletak dibawah tanah. Gedung ini biasanya digunakan oleh pemerintahan Belanda sebagai gedung pertemuan untuk para petinggi Belanda yang berada di Medan. 

v Kantor De Javasche Bank

Bangunan ini persis bersebelahan dengan kantor Medan Stadhuis disebelah kiri, dan bersebelahan dengan Hotel De Boer sebelah kanan. Kantor De Javasche Bank memiliki bentuk bangunan segi empat gaya colonial empire. Bangunan ini menggambarkan arsitektur yang kelihatan sangat dipengaruhi oleh gaya kolonial yang sangat banyak digunakan orang Inggris di negeri-negeri jajahannya. bangunan ini didesain oleh Cuypers dan Hulswit tahun 1908. De Javasche Bank merupakan bank cabang milik Belanda di Jawa yang digunakan untuk mensosialisasikan mata uang Gulden milik Belanda. Keindahan bangunan Javasche Bank yang didominasi dengan warna putih ini menggunakan gaya colonial empire dengan ciri-ciri bangunan berbentuk simetris dengan garis-garis horizontal sepanjang dinding.

v Hotel de Boer

Bangunan hotel ini merupakan sebuah hotel yang didalamnya terdapat bar dan restoran mewah di masa pemerintahan Belanda dimana para pengusaha perkebunan dan pemerintah kolonial Belanda menikmati hidup gemerlap di Kota Medan. Hotel De Boer dibangun tahun 1909, nama hotel ini sesuai dengan nama pemiliknya yaitu Herman De Boer. Hotel ini terdiri dari 2 lantai yang terdiri dari sebuah restaurant, sebuah bar dan tujuh ruang tamu, serta hotel pertama kali di Asia Tenggara yang kamarnya memakai kawat nyamuk. Hotel ini berdiri atas jasa arsitek bernama C. Boon dengan arsitektur bergaya Classic sehingga memberi kesan kemegahan, dan bangunan ini menjadi bukti gaya hidup orang-orang Eropa di Kota Medan. 

v Kantor pos

Bangunan ini didesain oleh Snuyf, Direktur Jawatan Pekerjaan Umum Belanda untuk Kesultanan Deli, yang mulai dibangun pada 1909 hingga 1911 sesuai dengan tulisan “ANNO 1911” pada dinding bagian samping kiri dan kanan sebagai bukti kelahiran bangunan peninggalan Belanda tersebut. Desain bangunannya sendiri dikenal dengan nama arsitektur modern fungsional dan diperkirakan merupakan bangunan pertama yang menggunakan arsitektur geometris di Medan. Bangunan dengan gaya arsitektur neo classic berbentuk sangkar burung memiliki jasa amat penting bagi dunia surat menyurat pada saat itu.

v Deli Spoorweg Maatschappij

Stasiun Kereta Api yang dibangun oleh Thomas Karsten merupakan fasilitas penting yang sangat memberi kontribusi yang sangat berarti bagi perkembangan kota Medan. Renovasi terbesar dilakukan pada tahun 1939 yang dilakukan adalah pengurangan bagian yang tidak dirasa diperlukan (fungsional saja) serta penambahan menara jam setinggi 20 m, sebagai penanda bangunan, serta sekaligus cerobong ventilasi udara, dengan jam yang menunjukkan waktu keberangkatan kereta kepada penumpang. 

v Kantor Perusahaan Stoomvaart Maatschappij Nederland

Bangunan ini berhadapan langsung dengan gedung kantor perkebunan Inggris Harrisons & Crosfield. Keberhasilan penanaman tembakau di Sumatera Timur turut mendorong perusahaan-perusahaan di bidang pelayaran. Seperti Jakarta Lloyd yang pada saat didirikan adalah Kantor Perusahaan Pelayaran The Netherlands Shipping Company. Bangunan ini merupakan hasil karya dari seorang arsitek bernama C.Boon dengan arsitektur neo classic awalnya merupakan kantor perusahaan kapal uap Belanda (Stoomvaart Maatschappij Nederland).

v Kesawan (Rumah-Rumah Tua)

Kawasan ini adalah kawasan Eropa dan menjadi sebuah kampung tempat persinggahan para pedagang yang datang untuk berdagang dan menyabung ayam, semua kegiatan dilakukan disana. Tempat ini merupakan kawasan sentral penduduk yang berasal dari Serdang yang akan menuju ke Sunggal atau dari Percut ke Hampaaran Perak, bahkan dari Labuhan ke Deli Tua. Kawasan Eropa inilah yang kemudian berkembang menjadi Kesawan, seiring perkembangan waktu, permukiman etnis Cina banyak mendominasi wilayah tersebut dan dijadikan kawasan bisnis Tahun 1918. 

  Kantor Perkebunan Inggris Harrisons & Crosfield

Bangunan yang letaknya persis berhadapan dengan Esplanade didirikan pada tahun 1914 oleh pemerintah Belanda. Arsitektur bangunan banyak dipengaruhi gaya kolonial Inggris, bahan bangunan lantai tegel, dinding batubata, atap genteng, tiang beton bertulang. Batu-batu granit yang menghiasi gedung didatangkan dari Eropa. Gedung ini merupakan bangunan pertama di Kota Medan yang memakai lift sejak tahun 1910 berbentuk sangkar besi yang dihiasi motif bunga-bunga dengan dekorasi art deco.

v Warenhuis

Bangunan ini merupakan sebuah pusat perbelanjaan bagi orang Belanda, didirikan pada tanggal 16 Februari 1919 oleh Walikota Medan pertama Daniel Baron Mackay. Angka tahun pendirian ini tertulis pada bagian tembok bangunan. Arsitek bangunan ini adalah G. Bos. Bangunan ini dikenal sebagai Medan Warenhuis, sebuah pusat perbelanjaan untuk orang Belanda yang tinggal di Medan pada masa Kolonial. Bangunan ini dilengkapi oleh sebuah menara tepat disudut dan dua menara lainnya pada sayap kiri dan kanan bangunan, suatu ide rancangan yang dipengaruhi oleh gaya renaissance. Pada Lantai dua, terdapat balkon dengan balustrade yang dekoratif. 

v Kantor Nederlanshe Handel Maatschappij

Bangunan ini dibangun pada tahun 1924 untuk kantor “Nederlanshe Handel Maatschappij”, dan pada masa penjajahan Jepang gedung ini dipakai sebagai kantor “Gunseikambu”. Bangunan ini dibangun oleh pemerintah Belanda dengan seorang arsitek bernama Van Oywend dibuat tipikal dengan bangunan yang berlanggam modern style seperti bangunan yang bergaya Eropa.

v Villa Milik Deli Spoorweg (DSM)

Bangunan yang berdiri sebagai villa milik Deli Spoorweg (DSM). Desain bangunan ini dengan arsitektur Hindia yang menunjukkan struktur dinding sangat kuat terbuat dari batu-bata. Dinding depan terdapat yang masif dan tebal yang diletakkan dengan dua pilar klasik, membentuk pintu masuk yang khas. bangunan ini memperlihatkan sistem bangunan tertutup sebagaimana terdapat di negara-negara Eropa dan tidak beradaptasi dengan iklim tropis kecuali penempatan ventilasi atap dibagian atas bangunan. Bangunan ini didominasi dengan warna putih dan terdapat penambahan kubah atap yang memiliki ciri khas yang didesain dengan bentuk istana-istana Melayu Deli. 

v Gedung Varekamp & Co

Bangunan ini didirikan pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1921. Gedung Varekamp & Co ini memang sengaja dikonstruksi sebagai gedung yang fungsional, dan terdapat kantor penerbit, toko buku dan percetakan. Bangunan ini dibuat dengan desain art deco, dimana pembangunanya mengunakan material seperti metal, kaca, bakelit dan plastik.

v Water Leiding Maatschappij Ajer Bersih

Di tahun 1886 kebutuhan air bersih dikelola oleh sebuah perusahaan partikelir yang bernama NV. Water Leiding Maatschappij Ajer Bersih yang berpusat di Amsterdam, Belanda. Bak penyimpan Air bersih ini dibangun pada tuhun 1908 oleh perusahaan swasta Belanda, yang sudah beroperasi mengalirkan air minum penduduk Medan dari Tanah Karo sejak tahun 1883. Bangunan fungsional ini dirancang oleh arsitek asal Italia dengan arsitektur bergaya colonial empire. 

v Gedung BKS-PPS (AVROS)

Avros yang disebut dengan penamaan bahasa Belanda (Algemeene Vereeniging van Rubberplanters ter Oostkust van Sumatera atau asosiasi Pemilik Perkebunan Karet di Pantai Timur Sumatera). Gedung ini didirikan tahun 1918-1919 oleh GH. Mulder. Angka tahun pendiriannya ini tertulis didinding bagian atap. Bangunan ini dipergunakan untuk gedung AVROS. Terdapat kubah diatas gedung ini, kubah itu merupakan jam yang masih bekerja dengan setia mesin jam bermerek “Netherlandschefabriek Torenuurwerken B. Eijsbouts – Asten” dan baru dipasang pada 1920.

Selain disekitaran Esplanade, juga terdapat banyak bangunan kolonial yang tersebar diberbagai wilayah seperti Gereja Immanuel, Medansche Zwem Vereeniging, Gedung AVROS Proefstation, Deli Proef Station, Gereja Gereformeerd, kantor Nederlandsche Indische Levenverzekering en Lijvrente Maatschappij (NILLMIJ), Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara, Handels Vereniging Amsterdam, rumah City Major (Burgermaster), Rumah Sakit Tembakau Deli, sekolah Pangeran Beatriz (Princess Beatrix School), gedung Lanraad dan Raad Van Justitie, gedung Bioscoop Scala, dan lain sebagainya yang menjadi bukti hadirnya julukan Parijs van Soematra yang disandingkan untuk Kota Medan. Berdirinya bangunan-bangunan kokoh di wilayah Medan menjadi icon kota yang menarik dengan rancangan arsitertur-arsitektur yang telah memiliki reputasi Internasional pada masa itu. Pembangunan gedung diarahkan ke daerah Esplanade menjadi titik tumpu yang mampu menghadirkan bangunan yang indah bergaya Eropa, hal ini menjadi ciri khas kota kolonial sehingga Medan pernah mendapat julukan Parijs van Soematra. Identitas Kota Medan yang tidak dapat dilepas dari bangunan-bangunan memorial sejarah bergaya Eropa. 

Memudarnya Parijs van Soematra Sebagai Identitas Kota Medan

Julukan Parijs van Soematra tersebut sekarang hilang hanya tinggal kenangan. Sangat bertolak belakang bila kita membandingkan kondisi dahulu dengan kondisi sekarang. Ketimpangan bangunan, jalanan, kebersihan lingkungan, dan kondisi tiga sungai besar selaku urat nadi yang ada di Kota Medan begitu memprihatinkan dan tidak bisa dibanggakan. Rasanya begitu berat membangkitkan ruh dan kharisma Kota Medan sebagai Parijs van Soematra tempo dulu di masa kini. Pengguna bangunan-bangunan tersebut hanya sekedar menempati, namun tidak merawatnya. Inilah yang kemudian mengakibatkan semakin banyaknya bangunan peninggalan era kolonial Belanda yang menjadi identitas Kota Medan hilang satu per satu. Selain bangunan, beberapa kawasan bersejarah khususnya di sekitar pusat kota Medan juga dibiarkan terbengkalai.

Memudarnya Parijs van Soematra disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal yang menyebabkan Parijs van Soematra mulai memudar yakni faktor kelemahan bawaan yang menyatu dalam bangunan atau warisan budaya. Itu berkenaan dengan bahan, sistem pembangunan (desain dan teknologi), tanah dan lokasi geotopografis dan iklim setempat, yang semuanya mengakibatkan terjadinya kerusakan dan pelapukan. Selain faktor internal, faktor eksternal juga mempengaruhi memudarnya Parijs van Soematra berupa faktor lingkungan yang mencakup ulah manusia, pengaruh urbanisasi dan globalisasi, bencana alam. Mordenisasi melanda perkembangan kota, baik fisik maupun non fisik, telah memberikan dampak positif bagi peningkatan disektor ekonomi dan jasa namun hal itu juga banyak membawa pengaruh nyata bagi kehidupan masyarakatnya.

Perubahan perkembangan yang dialami secara tidak langsung akan menciptakan kondisi yang tidak terkendali atas objek-objek warisan budaya. Hal ini terlihat pada perubahan tata lahan, perubahan tata bangunan, dan perubahan pemanfaatan lahan. Perubahan yang muncul akibat tambahan perkembangan ekonomi yang tidak teratur dan tidak kendali dapat menghilangkan karakter atau citra suatu kawasan. Kurangnya pemahaman atau perhatian masyarakat dan pengelola akan pentingnya pelestarian telah menyebabkan objek warisan budaya tidak terawat sehingga mempercepat proses kerusakan. Begitupun dengan unsur kesengajaan dengan membiarkannya kotor untuk tujuan tertentu. Pada umumnya koordinasi antara instansi terkait dengan kalangan akademis serta masyarakat bagi penanganan objek-objek budaya kurang baik, sehingga tidak mengherankan bila kebanyakan daerah belum menyusun rencana ini.

Pembangunan Kota Medan yang tidak didasari konsep city heritage menyebabkan bangunan-bangunan bersejarah peninggalan bangsa kolonial terabaikan. Saat initerdapat beberapa gedung yang telah dirubuhkan yakni gedung Mega Eltra yang dibangun pada tahun 1912 dan pada tahun 2002 bangunan ini dirubuhkan setelah pihak Mega Eltra menjual kepada pihak swasta dan selanjutnya dibangun pusat perbelanjaan modern. Selanjutnya gedung Eka Bank Modern yang dibangun pada tahun 1929 yang kemudian berubah total bentuk dari 2 lantai menjadi ruko lima lantai. Dan saat ini bangunan Rumah Sakit Deli telah dirubuhkan sebagian setelah bangunan ini dijual pada pihak swasta.

  

DAFTA PUSTAKA 

Avan, Alexander. 2012. Parijs van Soematra. Medan : Rainmaker Publishing.

Jan Breman. 1997. Menjinakan Sang Kuli: Politik Kolonial, Tuan Kebun, dan Kuli Di Sumatera Timur pada Awal Abad Ke-20. Jakarta: Pustaka Utama Grafitti dan KITLV.

Nurhamidah. 1983. Medan Pada Masa Pemerintahan Geemente. Skripsi. Medan: Jurusan Sejarah, Fakultas Sastra, Universitas Sumatera Utara.

Pradityo, Rahardian. 2013. PARIJS VAN SOEMATRA (Arsitektur Konseptual). Skripsi. Medan: Departemen Arstektur, Fakultas Tehnik, Universitas Sumatera Utara.

Said, Muhammad. 1977. Koeli Kontrak Tempo Doeloe; Dengan Derita dan Kemarahannya. Medan: Waspada, 1977.

       Sinar, Tengku Luckman. 2001. Sejarah Medan Tempoe Doloe. Medan. Perwira.

Surapati, Syarifuddin. 2014. Sejarah Bangunan-bangunan Bersejarah Sebagai Sumber Pembelajaran Sejarah di Kota Medan. Skripsi. Medan; Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Medan.

  


[1] Alexander Avan. . Parijs van Soematra. (Medan : Rainmaker Publishing. 2012) hlm. 17 

[2] Ibid., hlm. 88 

[3] Bahasa Belanda untuk perusahaan. Yang dimaksud onderneming dalam tulisan ini yakni perusahaan perkebunan. 

[4] Ibid., hlm. 23 

[5] Avan, Alexander. Op.cit., hlm. 96 

[6] Ibid., hlm. 92 

[7] Ibid., hlm. 93 

[8] Pradityo, Rahardian. PARIJS VAN SOEMATRA (Arsitektur Konseptual). Skripsi. (Medan: Departemen Arstektur, Fakultas Tehnik, Universitas Sumatera Utara. 2013), hlm. 18 

 


Komentar

Postingan Populer