Sekelumit cerita dari Tanoh Gayo

 

Sekelumit cerita dari Tanoh Gayo  

Hola Amigo!!

            Dalam blog ini, aku akan banyak cerita berbagai hal yang mungkin kedepannya bakal random yaa hihihi, Jadi karena aku suka banget sama traveling untuk kali pertama aku bakal cerita sedikit tentang pengalaman ku mengikuti “Kemah Kerja Budaya”, bisa dibilang sih belajar sambil jalan-jalan ya hehehe. Sebenarnya, Kegiatan ini dilaksanakan pada Agustus 2018, tapi aku baru memberanikan diri untuk go publik menuangkannya dalam tulisan di tahun 2020 (wah lama banget yakan wkwkwk). Berikut sedikit cerita terkait apa itu Kemah Kerja Budaya.

            Nah, Kemah Kerja Budaya di adakan oleh Badan Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh yang di selenggarakan pada Desa Toweren Aceh Tengah dengan tema Mukale Kintembuni yang dalam bahasa Gayo artinya “Rindu Kampung Halaman” dengan tujuan untuk mendorong generasi muda agar terlibat dalam gerakan literasi dalam konteks pemajuan kebudayaan dengan merasakan pengalaman “Pulang ke kampung Asal Manusia Sumatera” yang bermula di Loyang Mandale, Aceh Tengah. Pengalaman ini lah yang menjadi fondasi pembentukan kesadaran dan pemahaman bahwa kebudayaan adalah modal, kekayaan sekaligus kekuatan sosial.

            Sebagai salah satu peserta yang diinapkan selama 5 hari di rumah keluarga semang yang dipilih untuk mendapatkan pengalaman kebudayaan secara langsung. Sangat bersyukur sekaligus bahagia bisa dikasih kesempatan untuk eksplor tanoh gayo sekaligus berinteraksi secara langsung dan belajar banyak hal dengan masyarakat disana.

Jadi ini sekelumit gambaran mengenai bagaimana kondisi sosial budaya Desa Toweren, Kecamatan Lut Tawar, Aceh Tengah. Semoga bermanfaat untuk menambah informasi, cekidott…

.

.

Langit dihari itu begitu indah, matahari pun mulai tenggelam menyembunyikan sinarnya dibalik bukit-bukit, cantik bentuk awan itu ya fik “kata ku sebagai peserta Kemah Kerja Budaya yang hanya menetap selama 5 hari pada teman yang juga mengikuti kegiatan tersebut”. Angin begitu kuat berhembus , dedaunan kopi pun mulai berjatuhan sehingga membuat kami bergegas untuk kembali kerumah keluarga Semang selama di kampung Toweren ini.

Reje yaitu sebutan untuk Kepala kampung di desa Toweren. Reje Toweren uken saat ini merupakan pemegang kunci “Umah Pitu Ruang” (Rumah Tujuh Ruang) yang dibangun pada tahun 1880, ia merupakan keturunan dari reje-reje sebelumnya. Reje pertama bernama “Djalaludin” yang lahir di kampung Toweren, ia diangkat sebagai Reje pada tahun 1870 hingga tahun 1915. Lalu kemudian tongkat estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh keturunan kedua yang bernama Reje Selamat yang resmi sebagai Reje pada tahun 1916 sampai akhir pemerintahannya sebagai reje tahun 1927. Reje ketiga bernama Saleh yang dibaiat sebagai Reje tahun 1928 sampai awal kemerdekaan tahun 1945, dan kemudian Reje yang terakhir bernama Baluntara sampai saat ini menjaga kearifan lokal dan rumah adat gayo tersebut.

Reje mengizin kan saya, Taufik, Rayhana, Mubarak dan Saddat untuk melihat isi yang ada didalam “Umah Pitu Ruang”, mengenai rumah adat gayo terdapat ukiran-ukiran pada setiap sisinya, diantaranya yaitu ukiran Naga dengan filosofinya melambangkan sebagai hewan raksasa kuat hal ini berarti menggambarkan pada masyarakat suku gayo yang memiliki fisik dan daya tahan hidup yang tangguh, kemudian juga terdapat ukiran Ikan Pedeh yang dianggap istimewa, filosofinya menggambarkan bahwa sumber penghidupan mereka sebagai nelayan, bertani dan berkebun.

Sore ini begitu sejuk, angin bertiup begitu kencang..

Kembali kami memandangi rumah-rumah yang di kelilingi bukit hijau yang menghiasi Toweren, Dinginnya air danau laut tawar memanggil kami untuk mandi disana namun apalah lah daya mengingat mitos penduduk setempat yang harus dihargai untuk menjaga alamnya, maka berlakulah pepatah yang mengatakan “dimana bumi di pijak disitu langit di junjung”. Negeri yang di penuhi dengan cerita berbagai mitologi didalamnya membuat daya tarik tersendiri.

Selain “Umah Pitu Ruang” uniknya di desa Toweren juga memiliki sistem pemerintahan yang berbeda dengan desa lainnya di Aceh Tengah, diantaranya yaitu terdapat lapisan masyarakat diantaranya Reje, Imam, Petuah, dan RGM (Rakyat Genap Mupakat), namun disini akan dibahasa mengenai Petuah kampung Toweren yang memiliki peran penting di dalamnya.

“Kejurun Blang” merupakan sebutan untuk petuah kampung yang menaungi atas pertanian dan perkebunan di Desa Toweren. Namun bukan itu saja banyak juga peran penting dari Kejurun Blang di Desa Toweren Aceh Tengah ini, Berikut beberapa perannya yaitu dimulai dari tradisi Meunyuk Seme (menyemai bibit padi), Mujeurgat (pencabutan bibit padi), Meunomang (bibit dipindah ke lahan), Meulamut (membersihkan rumput ladang), dan yang terakhir Meunuling (memanen/memotong Padi), kesemuanya ini tidak dapat berjalan apabila tidak ada campur tangan terlebih dahulu dengan Kejurun Blang.

Selain beberapa tradisi diatas, di desa Toweren juga memiliki beragam tradisi seperti Tulak Bele (Tolak Bala), Rabun nas (Rabu terakhir) , Nyarang  (mawang hujan), kesepakatan warga kampung yang setiap hari jumat dari pagi tidak boleh melakukan aktifitas seperti berkebun dan yang lainnya namun ketika sudah selesai shalat jumat warga Toweren baru dibolehkan melakukan aktifitas kembali untuk berkebun dan yang lainnya, dan yang terakhir setiap ada orang yang meninggal maka warga Toweren tidak boleh juga melakukan berbagai kegiatan dan aktifitas lainnya yang berat-berat

Seluruh tradisi yang ada di desa Toweren ini lebih merujuk pada peran dan fungsi kejurun blang yang lebih banyak dilakukan oleh nya, lebih menariknya lagi bahwa kejurun blang juga memiliki kelebih khusus yang diperolehnya dari turun temurun yaitu berupa kelebihan yang dapat mengobati orang yang sakit, banyak orang yang sakit datang menemuinya untuk melakukaan perobatan dan mereka meyakini bahwa setelah diobati oleh kejurun blang itu maka penyakit akan pergi.

Hanya kejurun blang yang tau persis mengenai keadaan di desa Toweren, dan jika ada warga desa yang melanggar setiap tradisi-tradisi yang ada maka dengan itu mereka harus menerima sesuatu hal buruk pasti akan menimpa mereka bagi yang tidak mau mematuhi aturan-aturan tersebut, mengapa demikian ?

Peraturan dan tradisi ini memang tidak dibuat secara tertulis namun melalui penuturan lisan yang disampaikan mulai dari nenek moyang suku Gayo kemudian dipercaya oleh keturunan-keturunan lanjutannya agar hal-hal positifnya dapat terus terjaga kelestariannya.

            Dapat dikatakan bahwa tanoh gayo memiliki suhu yang sangat dingin berkisar 15º-20º celcius.. Lelah seharian berjalan, namun semangat kami membara untuk terus menyusuri berbagai sudut di tanoh gayo.

Pesan moral dari Reje Toweren Uken saat diwawancarai terhadap kita semua khususnya penduduk Toweren agar kita selaku generasi muda menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam diri kita kemudian disertai dengan ilmu penghetauan juga. selaku generasi muda kita juga harus mempertahankan adat istiadat agar tidak tergerus oleh perkembangan zaman yang pesat sehingga dapat menyebabkan krisis identitas. Kita juga harus menjaga peninggalan-peninggalan bersejarah yang ada di daerah kita sebagai bukti bahwa kita memiliki identitas yang kuat sehingga tidak mudah untuk di pecah belah.

            Sebagai penutup pada tuliskan kali ini, sebenarnya banyak hal yang bisa dikaji disetiap sisi tanoh gayo, mulai dari sejarahnya, kondisi sosial masyarakatnya, perekonomiannya bahkan hal lainnya yang sangat minim sekali sumber tulisan sebelumnya mengenai tanoh gayo, terlepas dari hal-hal mitologi yang telah saya bahas sebelumnya di desa Toweren. Btw.. tanoh gayo itu luas membuat perjalanan selama 5 hari sebenarnya belum cukup ya wkwkwk. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya…

                       

 

             

 

 

 

 

Komentar

Postingan Populer