SUNGAI DULU DAN KINI

SUNGAI DULU DAN KINI

Arkini Sabrina

            Sungai merupakan rupa bumi yang sangat dominan di Sumatra. Ada ribuan sungai dengan berbagai ukuran yang ada di pulau Sumatra, dan hampir tidak ada dari setiap daerah di pulau ini yang tidak di aliri oleh sungai. Maka dalam perjalanan Sejarah yang panjang. Kehidupan masyarakatnya secara langsung maupun tidak, dipengaruhi oleh sungai. Kemudian berbagai perubahan yang terjadi di Sumatra juga berkaitan erat dengan sungai. Berdasarkan pengalaman empiris warga di Sumatra Timur menegaskan bahwa sungai telah menjadi salah satu faktor dalam perjalanan sejarah di daerah tersebut.

            Contohnya dapat dilihat mulai dari kejadian, peristiwa maupun aktivitas manusia yang paling sederhana hingga yang besar dapat dilihat dari beberapa kegiatan yang telah dilakukan masyarakat didaerah Sumatra Timur tersebut. dan contoh-contoh tersebut bisa dilihat dari kejadian yang terjadi sejak masa lampau hingga masa sekarang. Dapat dilihat di berbagai tempat di daerah Sumatra Timur ini khususnya bahwa dari sejak dulu nya hingga dewasa ini, Sungai digunakan oleh masyarakat sebagai tempat untuk berbagai aktivitas seperti tempat untuk mereka mandi, buang air, mencuci barang pecah belah, dan pakaian. Bahkan sungai juga menjadi sumber irigasi yang penting pada sektor pertanian. Sungai, bukit dan pegunungan juga sering digunakan sebagai pembatas dari suatu daerah maupun wilayah oleh beberapa kelompok masyarakat yang ada di daerah ini. Beberapa dekade juga sungai menjadi bagian terpenting dalam pembangunan pembangkit listrik tenaga air (PLTA)[1].

            Pada masa lampau, sungai juga menjadi “Jalan Raya” masyarakat Sumatra Timur untuk berlalu lalang membawa barang-barang mereka dari hulu ke hilir dan sebaliknya. Hal ini lah yang menyebabkan terkonsentrasinya permukiman penduduk di daerah aliran sepanjang sungai. Kemudian, pusat pemerintahan dan kegiatan ekonomi pasar serta pusat aktivitas keagamaan dan lainnya dibangun dan dilakukan dipinggir sungai. Tidak dapat di pungkiri juga bahwa orang-orang terdahulu pada masa awal sejarah menggunakan sungai untuk bermigrasi dari satu daerah ke daerah lain hingga mereka menetap pada satu daerah yang mereka singgahi tersebut sampai pada masa sekarang. Dari uraian ini dapat dilihat bahwa sungai telah menjadi faktor yang sangat penting bagi sejarah di Sumatra khusus nya di daerah Sumatra Timur. Berbagai peristiwa telah menjadi  faktor penyebab terjadinya perubahan sosial, ekonomi, politik, dan budaya masyarakat di Sumatra Timur

PERAN DAN PERUBAHAN KEBERLANJUTAN DUNIA SUNGAI DI SUMATRA TIMUR 

Peran Sungai pada Zaman Klasik

Secara geografis Sumatra Timur terletak diantara garis khatulistiwa dan 40˚ Lintang Utara, berbatasan dengan Aceh di Barat laut, dan Tanjung Cina di Selat Sunda bagian Selatan. Sumatra Timur mempunyai iklim pantai tropik yang sifat mikronya dipengaruhi oleh topografi seperti daerah tanah tinggi “Tumor Batak”[2], antara lain : Dataran Tinggi Karo, Pengunungan Simalungun, dan Pegunungan Habisaran.

Beberapa kerajaan Melayu mendirikan pusat kerajaannya di tepi sungai, baik sungai kecil maupun besar, diantara nya yaitu : Kerajaan Langkat dengan pusat kerajaan di Kota Tanjung Pura dekat dengan sungai Langkat, Kerajaan Deli dengan pusat kerajaan Labuhan di pinggir Sungai Deli, Kerajaan Serdang dengan pusat kerajaan Rantau Panjang di tepi sungai Serdang, Kerajaan Bedagai dengan pusat Kerajaan Tanjung Beringin di pinggir sungai Bedagai, kerajaan Padang dengan pusat kerajaan di Bandar Khalifah di dekat sungai Padang, Kerajaan Asahan dengan pusat kerajaan Tanjung Balai di pinggir sungai Asahan, kerajaan Bilah dengan pusat kerajaan Negeri Lama di tepi sungai Bilah dan kerajaan Panai dengan pusat kerajaan Labuhan Bilik di pinggir sungai Panai.

Dalam era klasik dan era modern sungai memiliki perannya dalam dinamika sejarah Sumatra Timur seperti, Pada era klasik, dapat di lihat pada kerajaan Deli, kerajaan Melayu dan kerajaan lainnya yang menurut literatur lama bahwa pusat-pusat kerajaan itu terletak di tepi sungai atau di pinggir sungai. Pola penempatan pusat kerajaan di kawasan bagian tengah aliran sungai juga berlaku pada era modern awal, bahkan jumlahnya lebih bertambah dari era klasik sebelumnya. Dilihat dari deskripsi ini dapat dikatakan bahwa sejumlah pusat kerajaan yang besar bahkan jauh dari bibir pantai. Selain itu, karena sungai juga mempunyai andil dalam berbagai aktifitas manusia pada zaman dahulu, maka terdapat pula penemuan berupa peninggalan atau pun jejak-jejak manusia pada zaman itu di sepanjang aliran sungai-sungai yang pernah disinggahi oleh aktivitas manusia terebut seperti :

 

1.      Sebagai Pola Permukiman Penduduk pada Masa Awal

Hingga akhir abad ke-19, pemukiman kampung/kota di Sumatera Timur umumnya berada di sepanjang aliran atau kawasan sungai. Pemukiman tersebut menampilkan pola yang tersendiri. Pola yang dihadirkan adalah pemukiman bagian tengah aliran sungai. Maksudnya, pemukiman umumnya berlokasi di bagian tengah aliran sungai. Nyaris tidak ada, atau sedikit sekali pemukiman yang berada langsung di pinggir pantai atau di kawasan muara. Kalaupun ada, maka seperti yang disebut di atas, pemukiman yang paling hilir di kawasan muara berlokasi dengan jarak tertentu dari pinggir pantai, biasanya dengan jarak “satu kali pasang” (9 km) dari bibir pantai, sedikit sekali pemukiman yang berlokasi lebih dekat dari jarak ini.

Berdasarkan uraian sebelumnya yang menyatakan bahwa orang-orang yang terdahulu pada masa awal sampai di Sumatra melalui jalur sungai, maka pemukiman pertama mereka yaitu goa yang tidak jauh dari kawasan sungai atau tidak jauh dari pinggir sungai, seiring dengan perkembangan kebudayaan dan peradaban akibat dari semakin aktifnya mereka merespon perkembangan zaman, manusia-manusia ini membuat tempat tinggal yang lebih sempurna dari yang sebelumnya salah satu nya juga agar tidak di ganggu oleh binatang buas. Hunian pertama yang diciptakan yaitu “pondok” sederhana dari bambu maupun kayu dengan berlantaikan tanah dan atap yang terbuat dari daun yang ditumpuk atau dianyam, pada masa ini hanya digunakan ketika penghuninya melakukan kegiatan berburu, menangkap ikan dan berladang. Dan pondok ini digunakan dengan waktu yang cukup lama dan kehidupan nya masih belum menetap. Pondok ini pun sedikit jauh dari kawasan sungai. Hal ini dilakukan agar menghindari banjir dari sungai yang meluap dan juga lebih mudah untuk membuka ladang agar bercocok tanam[3].

Salah satunya alasan mengapa orang “Batak” yang semula menempati hulu sungai kemudian bergerak ke pedalaman yang memiliki banyak gunung-gunung dan bukit. Peran mereka sangat lah besar terbukti dalam perdagangan internasional kamper dan kemenyan (benzoin) pada masa dulu, ini merupakan komoditi yang sangat di minati oleh kota-kota pelabuhan utama di Selat malaka. Pemekaran permukiman dilakukan di kawasan pedalaman dan penduduk semakin bertambah serta didukung juga dengan adanya tuntutan dari hilir yang ingin mendapatkan komoditas lainnya seperti cengkih, pala, lada dari pedalaman. 

 

2.      Sebagai Jalur Transportasi Pelayaran dan Perdagangan Komoditas Ekspor dan Lokal

Kawasan sungai Deli penguasanya yaitu kerajaan Deli, meskipun ada juga beberapa raja (datuk) yang berada di kawasan tersebut. tetapi awal berdirinya kerajaan banyak konflik internal dan eksternal yang terjadi. Hal ini dikarenakan sungai merupakan jalur transportasi dan juga perdagangan dari hulu (Tanah Karo) ke hilir (Labuhan), sehingga dengan menguasai jalur ini kerajaan mereka menjadi Makmur. Selain itu banyak tekanan dari luar yang mempengaruhi kesultanan Deli, terutama dari Belanda yang perlahan mendekat ke wilayah Sumatra Timur. Perkembangan kesultanan Deli dipengaruhi juga dengan keberadaannya di piggir sungai sehingga segala kegiatan kesultanan berada di sungai.

Memasuki tahun 1823 kesultanan Deli terlibat perang dengan Raja pulau Brayan, Langkat dan Urung Sunggal[4]. Pada kunjungan Jhon Anderson ke Pantai Timur Sumatra, Anderson mengunjungi Deli. Berdasarkan catatan tersebut, Kesultanan Deli berada di Labuhan (pinggir sungai Deli). Ketika Anderson datang, kesultanan Deli sedang berperang dengan Raja Pulau Brayan dan Raja Graha. Kemudian Anderson menghulu ke sunngai Deli untuk mengunjungi Sultan yang berada di kampung Jawa yang merupakan tempat berlangsungnya pertempuran. Selama perjalanan Anderson melewati jalan setapak sepanjang sungai, dengan lumpur setinggi lutut, selain itu sepanjang perjalanan, rombongan Anderson diharuskan berjalan dengan satu baris, karena akan terkena panah.  

 

3.      Kehidupan Masyarakat di Daerah Aliran Sungai  

Menurut Volker hingga tahun 1860 lingkungan alam disekitar Kesultanan Deli masih hutan rimba yang asli yang dimaksud yaitu lingkungannya masih belum di rusak oleh manusia[5] dan sekitarnya terdapat permukiman-permukiman penduduk asli yang berasal dari Tanah Karo dan orang-orang Melayu yang berasal dari Tanah Semenanjung Malaya. Jumlah penduduk yang di dalam kawasan Kesultanan Deli 3000 orang Melayu dan penduduk suku Karo yang tinggal di pedalaman berjumlah 8000 orang, daerah aliran sungai dipenuhi dengan tanah rawa dan ditumbuhi pohon nipah.

Sebelum masuknya pengaruh kolonial di Sumatra Timur Kota pada masa dulu bukan seperti kota yang kita bayangkan pada masa kini, namun secara sederhana kota yang di maksud pada masa dulu yaitu pelabuhan, Pelabuhan pada masa itu merupakan tempat dimana para penguasa Melayu bertempat tinggal dan memerintah, pusat kegiatan ekonomi, dan juga aktivitas kebudayaan. Letak pebuhan pun masih di daerah sungai. Hal ini dikarenakan pada masa itu hasil bumi dari hulu dapat diangkut menggunakan sampan, maka dari itu pelabuhan diletakan di mulut sungai, dan kapal besar yang digunakan sebagai kapal untuk mengarungi laut diletakkan dipinggir pantai, karena tidak dapat masuk ke sungai.

Rumah-rumah pun menghadap ke sungai dan masih bertiangkan kayu dan terdapat serambi beratap panjang yang digunakan untuk tempat duduk atau tempat berjualan[6]. Hanya sedikit rumah yang terbuat dari kayu karena kebanyakan terbuat dari bambu, nibung, kajang, atau bahan-bahan yang ringan. Atap rumah terbuat dari daun nipah dan terdapat lubang agar udara dan cahaya dapat masuk. Karena terbuat dari bahan-bahan yang ringan maka rumah akan terlihat rubuh sewaktu-waktu. Jalanan dari parit yang dibuat oleh masyarakat tidak terpelihara dengan baik sehingga sepanjang jalan rusak serta parit menjadi tumpat[7].

Karena umumnya masyarakat hidup di pinggiran sungai maka mereka hidup dari hasil tangkapan ikan, dan yang tinggal dipedalaman hidup sebagai petani, lahan dimanfaatkan untuk menanam padi, cabai dan tembakau selama berselang-seling[8]. Sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani yang dilakukan secara berhuma, yaitu bercocok tanam dengan cara berladang dihutan-hutan serta menangkap ikan di sungai. Selain itu penduduk menambah kegiatan lainnya seperti menganyam tikar, bertenun dan membuat atap dari daun nipah, semua kerajinan itu mereka jual untuk keperluan mereka. Hasil-hasil hutan seperti kemenyan, damar, dan berjenis kulit binatang merupakan barang dagangan pada saat itu.

Kemampuan masyarakat di Sumatra Timur selain menanam lada juga menanam tembakau yang sudah dilakukan sebelum kedatangan pengusaha-pengusaha perkebunan Barat. Hal itu telah diketahui juga sejak kedatangan Anderson. Pengamatan Anderson mengenai penanaman tembakau Deli ini lah yang kemudian membuat Deli terkenal. Penanaman tembakau yang dilakukan oleh masyarakat masih secara sederhana. Produksi dan ekspor tembakau saat itu sudah mendekati produksi dan ekspor lada, sehingga Deli menjadi Daerah yang Makmur karena hasil lada dan tembakau nya. 

Peran Sungai Pada Masa Modern

Pada masa pemerintah Hindia Belanda masuk ke Sumatra Timur, sungai semakin intensif dimanfaatkan. Sungai tidak lagi semata-mata dijadikan sebagai “Jalan Raya” namun juga dijadikan untuk keperluan politik, militer dan juga pembangunan loji. Pada masa modern sungai telah dimanfaatkan secara sungguh-sungguh pada potensi ekonomi. Dalam hubungan nya pada masa ini lah sebagai perkembangan sungai pada masa berikutnya.

Sebagai kota pelabuhan “utama”, maka ada banyak kapal yang mengunjungi kota pelabuhan tersebut termasuk kapa asing. Walaupun ada jalan setapak, jalan setapak itu adalah bagian dari dunia sungai. Maka dari itu jalan setapak di manfaatkan untuk pindah sungai dan kemudian dilanjutkan lagi dengan perjalanan menuju sungai berikutnya. Pemanfaatan sungai sebagai jalur transportasi sudah berlangsung lama, kemudian oleh pemerintah kolonial dijadikan sebagai aktifitas dari perusahaan perkapalan mereka.

Pada masa pemerintahan kolonial juga ditandai dengan semkain intensifnya pengerukan timah pada dasar sungai. Pembalakan hutan dan ekspolitasi timah mempengaruhi kondisi sungai sungai yang dulunya lancar di lalui oleh para pengguna namun pada awal abad ke 20 mulai terganggu oleh timbunan kayu balak, tidak itu saja, air sungai pun semakin keruh. Hal ini kemungkinan besar karena pengerukan dasar sungai untuk penambangan timah dan erosi tanah yang disebabkan gundulnya hutan akibat pembalakan. 

            Pada masa Hindia Belanda juga merupakan masa transisi dari sebuah masa, ketika sungai memiliki peran yang sangat penting pada masa sebelum kedatangan pemerintah kolonial ke Sumatra Timur kemudian pada masa ini peran sungai mulai terkikis dan terpinggirkan kemudian diambil alih dan digantikan oleh tanah daratan. Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan IPTEK, Sejak akhir abad ke 19 dan mulai memasuki awal abad ke 20 Sumatra Timur mulai mengenal transportasi darat, sejak saat itu pemerintah kolonial mengenal kan kereta api dan mobil di Pulau Sumatra khusunya di Sumatra Timur. Kedua moda transportasi ini tentu nya menarik perhatian masyarakat dalam waktu yang singkat saja. Keberadaan nya ini lah yang kemudian menggantikan transportasi di sungai.

Pada tahun 1883 Deli Spoorweg Maatschappij (DSM) membangun jalur kereta api Belawan-Medan-Deli Tua-Binjai dengan tujuan mempercepat akses jalan darat yang digunakan untuk kepentingan perusahaan perkebunan di Sumatra Timur dan pembangunan tahap awal selesai pada tahun 1886. Pada tahun yang sama Deli Spoorweg Maatschappij juga telah mempelopori pembangunan jalan raya di Sumatra Timur. Sehingga mengakibatkan, pola transportasi sungai yang secara tradisional telah digunakan oleh sultan dan rakyatnya menjadi bergeser menjadi kearah daratan dengan menggunakan jalan raya dan rel kereta api.

Zaman Kolonial juga merupakan era dimana sungai dimanfaatkan untuk mengerakkan turbin sehingga menghasilkan tenaga listrik. pengendalian banjir yang dilakukan yaitu dengan menguatkan dan meninggikan pinggir atau tebing sungai dengan penanaman batang kayu. Kemudian, Irigasi dibangun dan dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi terutama perkebunan Barat.

            Kemudian informasi yang paling penting yaitu pada era ini juga banyak di bangun bangunan-bangunan untuk menunjang sarana dan prasana didarat seperti pembangunan Jalan-jalan di kota ini telah diaspal dan diberi penerangan listrik. Sebagai sebuah ibukota keresidenan, Jika dilihat sudah lebih cukup dari segi infrastruktur dibandingkan kota-kota lain di Sumatra pada masa itu. Fasilitas-fasilitas ini sengaja dibangunan untuk menunjang keberadaan onderneming-onderneming di kota Medan. Kemudian bangunan seperti Avros, Deli Proef Station, Gereja Gereformeerd, kantor Nederlandsche Indische Levenverzekering en Lijvrente Maatschappij (NILLMIJ), Rumah Dinas Gubernur Sumatera Utara, Handels Vereniging Amsterdam, rumah City Major (Burgermaster), Rumah Sakit Tembakau Deli, sekolah Pangeran Beatriz (Princess Beatrix School), gedung Lanraad dan Raad Van Justitie, gedung Bioscoop Scala, dan perusahaan industri dan lain sebagainya yang kemudian limbah nya di buang ke Sungai Deli terutama

 

 

 



[1] Gusti Asnan, Sungai dan Sejarah Sumatra, Yogyakarta, Ombak : 2016. hlm 13-14

[2] Karl J Pelzer, Toean Keboen dan Petani, Politik Kolonial dan Perjuangan Agraria di Sumatra Timur, 1863-1947 (Jakarta: Sinar Harapan, 1985) hlm, 31

[3] Ibid., hlm 55

[4] Moh. Said, Deli Daholoe dan Sekarang : Sebelum dan Selama 1862-22 Agustus 1937, Medan, 1990, hlm 9.

[5] T. Volker, Van Oerbosch Tot Cultuurgebied : Een Schets van de Beteekenis van den Tabak, De Andere Cultures, en de Industrie ter Oostkuust van Sumatra (Medan, De Deli Planters Vereenigin, 1918)

[6] Karl J Pelzer, op. cit., hlm 52.

[7] E. Netscher, “Togtjes in het gebiet van Riouw en Inderhoorghenden, TBG deel  14.

[8] Anthony Reid (editor), Soematra Tempo Doeloe Dari Marco Polo sampai Tan Malaka (Jakarta: Komunitas Bamboe, 2010), hlm 300.

Komentar

Postingan Populer