Alexis de Tocqueville: Filsuf yang Terlupakan
Alexis
de Tocqueville: Filsuf yang Terlupakan
Oleh
Arkini Sabrina
Revolusi Prancis yang berlangsung selama 1789-1815 berusaha menjatuhkan monarki absolut di Prancis dan memaksa Gereja katolik Roma agar menjalani restrukturisasi secara radikal, peristiwa ini yang merupakan sebuah transformasi besar dalam sistem tatanan politik dan masyarakat Prancis. Keadaan prancis sebelum masa revolusi terjadi terdapat puncak absolutisme Prancis pada masa pemerintahan Louis XIV (1643-1715) yang berpegang teguh pada semboyan yang sering ia katakana yaitu l’etat cest moi (Negara adalah saya). Masa Louis XIV , Prancis mengalami kemunduran besar. Louis menganggap dirinya adalah wakil Tuhan di dunia dan masa pemerintahannya berlangsung lama.
Alexis de Tocqueville yang kerap disapa dengan panggilan Tocqueville lahir pada 29 Juli 1805 di Prancis dan merupakan seorang bangsawan dengan pemikiran yang sangat terbuka. Ia menikah dengan seorang wanita berkebangsaan Inggris bernama Marry Mottley. Keluarganya sangat menderita selama masa Revolusi Prancis berlangsung. Sedari kecil, Tocqueville dididik untuk menjadi seorang pengacara dan hakim. Namun ternyata, ia tidak sukses dalam kedua bidang tersebut.
Titik balik kehidupannya dimulai pada 2 April tahun 1831 ketika ia bersama temannya yang bernama Gustave de Beaumont pergi ke Amerika Serikat. Nah.. Untuk apa ia dan teman nya pergi kesana.. Awalnya yaitu ia berpura-pura untuk mempelajari bagaimana sistem penjara di Amerika Serikat. Namun tujuan sebenarnya ialah Tocqueville ingin mempelajari sesuatu hal yang sangat penting bagi dirinya, yaitu “Demokrasi, Kesetaraan dan Kebebasan”. Kenapa yang dipilihnya adalah negara Amerika Serikat untuk ia mempelajari ketiga hal tersebut, karena menurutnya Amerika Serikat dipandang sebagai laboraturium yang besar untuk ia belajar ketiga hal tersebut.
Tocqueville kemudian melakukan napak tilas nya ke berbagai bagian di Amerika Serikat, baik itu wilayahnya yang dapat dikatakan sudah maju, maupun yang belum maju termasuk sedikit wilayah Kanada hingga ke Barat sejauh teluk Green Wisconsin. Lalu.. sepanjang perjalanannya, dia melakukan banyak sekali kegiatan dan ia juga banyak bertemu dengan berbagai jenis orang yang berada disana kemudian Tocqueville pun mengajukan banyak pertanyaan-pertanyaan yang ia susun secara sistematis untuk dipertanyakan kepada setiap orang yang dia jumpai. Selain itu… ia juga banyak membuat catatan-catatan selama masa perjalanan berlangsung.
Setahun setelah ia berada di Amerika Serikat, Tocqueville kembali ke Prancis di tahun 1832 dan memulai penulisan karyanya pada volume pertama dengan memberi judul “Democracy in Amerika”. Ternyata, karyanya ini untuk di volume pertama sangat laris manis dan disambut baik oleh para pembacanya. Berlanjut pada penulisan karyanya yang sama dengan melanjutkan pada volume kedua, ternyata tidak begitu banyak di minati oleh pembacanya. Penyebab tidak menariknya karya Tocqueville pada volume kedua ini dikarenakan ia memakai sentuhan sosiologi dalam penulisannya yang dianggap orang-orang pada masa dahulu masih terlihat abstrak, sedangkan untuk di volume pertama dia memakai sentuhan politik, dimana politik pada masa itu sangat berkembang sehingga lebih menarik dari yang setelahnya.
Sama seperti dimasa sekarang, apa yang banyak dibicarakan oleh orang-orang dimasa itu, itulah yang sangat menarik. Orang-orang pada umumnya cenderung menyukai hal yang sama dibandingkan hal yang berbeda, karena bagi mereka hal yang berbeda dianggap aneh.
Democracy in Amerika adalah sebuah karya legendaris dari Tocqueville yang begitu luar biasa dimasa nya, namun ironis nya adalah, sebuah karya klasik ini yang membahas mengenai demokrasi secara umum maupun khusus di Amerika Serikat namun yang menuliskannya adalah seorang bangsawan Prancis, bukan dari orang Amerika sendiri.
Ambisinya Tocqueville pun tampak terlihat jelas dibidang politik, sehingga ia turut aktif untuk meneruskan karir di politik.
Nah… menariknya disini yaitu terlihat sebuah ambivalensi yang terjadi pada Tocqueville karena disatu sisi ia merupakan seorang aristokrat, namun disisi lain ia memiliki pandangan yang sangat liberal.
Menurut penulis, Tocqueville berbeda dengan para ilmuwan ataupun filsuf lainnya yang terlihat begitu familiar dikenal dengan pemikirannya. Apabila melihat pada seorang Marx, maka ada istilah Marxisme namun untuk di dirinya sendiri tidak ada istilah yang dapat disebut sebagai Tocquevillinisme. Hal ini dikarenakan tidak ada personal branding yang kuat dibangun dan melekat didiri Tocqueville. Ia pun telah lama dipandang sebagai ilmuwan politik bukan seorang filsuf ataupun sosiolog, karena banyak orang tidak merasakan kehadiran sebuah pemikiran dirinya. Tetapi sebenarnya, sumbangsih pemikirannya terhadap kebebasan dan kesetaraan banyak dilupakan oleh orang-orang. Padahal ia pendukung besar pertama dan terkemuka pada kebebasan dan kesetaraan. Tocqueville menghembuskan nafas terakhirnya ditahun 1859 dan meninggalkan dua karya besar yaitu (1) Democracy in Amerika dan (2) L’Ancien Rezim et la Revolution.
Referensi :
Djaja, Wahjudi, 2012, Sejarah Eropa : Dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern, Yogyakarta : Ombak.
Ritzer, George, 2012, Teori Sosiologi : Dari Sosiologi Klasik sampai Perkembangan terakhir Postmodern, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Komentar
Posting Komentar