IDEALISME VS REALISME
IDEALISME VS REALISME : Keseimbangan Kehidupan
Oleh
Arkini Sabrina
Berbicara mengenai paham Idealisme dan Realisme merupakan sebuah paham yang menjadi perdebatan abadi dalam filsafat. Idealisme dianut oleh tokoh-tokoh pemikir. Namun disisi lain Realisme berdiri sendiri diluar alam fikiran manusia dan telah diamini kemudian diterima oleh banyak orang sepanjang kehidupan berlangsung. Dalam hal ini akan kita bahas mengenai keduanya.
· Idealisme mengatakan bahwa realitas yang hakiki adalah fikiran, sedangkan realitas diluar fikiran adalah fenomena dari fikiran itu sendiri. Paham ini bersandar pada pemikiran para filsuf seperti Plato, Fitche, Hegel, Schelling dan Kant.
· Realisme mengatakan bahwa realitas ada diluar subjek atau diluar fikiran itu sendiri yang independent dari subjek itu sendiri.
Sebagai contoh yang dapat diambil yaitu apabila dihadirkan segelas “Susu” maka Idealisme akan berkata bahwa susu itu ada karena dipresepsi oleh subjek, karena ada yang mempresepsi susu maka susu itu ada. sedangkan apabila dihadapkan pada Realisme maka presepsi subjek tentang susu itu ada karena susu diluar subjek, jadi subjek memiliki presepsi susu yaaa… karena susu itu ada, kalau tidak ada susu maka tidak ada presepsi tentang susu.
Menurut hemat penulis, “Idealisme” yaitu suatu hal yang diyakini dan dianggap benar oleh orang yang bersangkutan, hal itu timbul dari pengalaman empiris, pendidikan, lingkungan dan latar belakang. Idealisme itu sendiri muncul dengan sendirinya perlahan dalam jiwa dan pikiran seseorang yang termanifestasikan dalam bentuk sikap dan perilaku. karena sejatinya adalah cara berfikir orang idealis berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Sedangkan “Realisme” adalah sebuah sifat dan sikap seseorang yang hanya mengikuti arus saja serta cenderung mengikuti apa yang disajikan dan ada dalam lingkungan yang dalam artian bahwa seseorang tidak memiliki pendirian yang tetap.
Apabila kita ambil contoh senderhana mengenai “Idealisme dan Realisme” dalam kehidupan sehari-hari dimana kita pasti memiliki mimpi-mimpi dan cita-cita serta passion yang akan dan harus dicapai. Mungkin dari kita ada yang ingin menjadi Jaksa, Dokter hewan, Pengusaha Tambang Batubara, Menteri dan lainnya. Basically, seperti saya pribadi yang ingin dan akan segera menjadi Ilmuwan, Peneliti dan Sejarawan, Pendidik, Penulis, dan Pengusaha Aminnn….
Nah, Pekerjaan-pekerjaan yang telah disebutkan diatas merupakan passion kita dimasa depan, namun agar passion tersebut dapat tercapai pasti ada kerikil maupun hambatan untuk mencapai passion tersebut seperti dalam hal ekonomi, sosial dan lainnya. Kalau kata kebanyakan orang bahwa “Realistis aja dong dalam bermimpi, hey wake up jangan kebanyakan mimpi nanti jatuh malah makin sakit”. Mendengar hal tersebut, saya pribadi berkeinginan untuk segera membungkam mulut orang-orang yang berfikiran sempit seperti itu.
Nah dalam hal ini timbul pertanyaan dalam diri kita : ”Apakah kita harus mempertahankan Idealisme kita ? atau “kita harus Realistis terhadap keadaan yang ada?”, atau pertanyaan lain yang muncul yaitu “seberapa jauh kita memperjuangkan passion kita?” , “seberapa jauh kita mau menjadi seorang yang idealis?”
Apabila kita menarik jauh bahwa orang-orang hebat seperti Jack Rowling, Steve Jobs, Soekarno, Che Guevara, Mahatma Gandhi dan tokoh hebat lainnya bahwa mereka adalah orang yang tetap teguh pada idealisme mereka. Menariknya adalah ketika mereka mempunyai mimpi yang terkesan tidak realistis maka hal tersebut akan diragukan oleh orang lain dan bahkan tak jarang menjadi bahan cemoohan. Namun apabila kita tetap bertahan pada idealisme tersebut maka impact yang besar pun akan lahir. Contoh lainnya yaitu apabila tokoh-tokoh besar tersebut tidak memiliki idealisme yang kuat pasti mereka hanya akan menjadi orang biasa dan tidak akan pernah berevolusi pada perubahan yang dapat menghasilkan karya yang besar. Dari sini, saya pribadi sadar bahwa idealisme itu sangat dibutuhkan dan begitu penting dalam kehidupan.
Lalu bagaimana selanjutnya dengan Realisme ?
Mungkin realitasnya banyak orang yang berkata bahwa hidup ini begitu keras, maka kita harus realistis dalam memandangnya, “apa bisa kita hidup dari idealisme saja ? apa mungkin kita hanya hidup dari passion saja ? kita pasti butuh money untuk makan dan mencukupi kehidupan kita, dengan kata lain tanpa uang kita tidak bisa makan dan hidup”. yaak…. Hal-hal tesebut pasti juga menjadi pertanyaan-pertanyaan yang memiliki tingkat kebenaran yang masih dapat digugat, kembali pada pertanyaan awal pada diri kita bahwa “apa kita harus menjadi realistis karena keadaan tersebut ? atau kita harus tetap bertahan pada idealisme yang kita miliki?”
Dalam hal ini, idealisme itu penting untuk diri kita. Tapi tentu tidak bisa berdiri sendiri, karena pada praktiknya dalam kehidupan bahwa dibeberapa situasi dan kondisi membuat kita untuk menjadi realisti. Namun ada situasi dimana kita harus tetap mempertahankan idealisme kita.
Nah muncul pertanyaan baru lagi seperti, “dikondisi mana kita harus realistis dan di kondisi mana kita harus tetap idealis?” . jawabannya adalah kita sendiri yang menentukan dan kita harus adaptif untuk bergerak sesuai kondisi yang ada. Karena dalam kondisi realitas yang mungkin membuat kita harus menanggalkan idelisme kita pasti ada solusi agar keduanya menjadi balance seperti air dan minyak saling berdampingan, tentunya agar idealisme tersebut pun tidak mati ditelan oleh realitas.
Komentar
Posting Komentar