FILSAFAT STOISISME

STOISISME : BELAJAR MENJADI MANUSIA BERAKAL

Oleh

Arkini Sabrina

Stoisisme adalah aliran filsafat pada zaman Yunani kuno saat masa Helenistik yang ditandai dengan kematian Alexander de Great. Aliran ini dibawa oleh Zeno of Citium. Stoisisme sangat populer pada masanya hingga dimasa sekarang juga. Nahh pertanyaannya adalah.. kenapa aliran ini bisa sampai populer juga hingga saat ini ? hal ini dikarenakan Stoisisme sangat relate dengan keadaan dizaman sekarang kemudian aliran ini juga tidak berlawanan dengan pemikiran filsafat lainnya. 3 tokoh penting yang membawa Stoisisme hingga masa gilang gemilangnya, diantaranya yaitu :

a.  Marcus Aurelius : beliau merupakan seorang kaisar Romawi dan orang terkuat dimasanya.

b.  Seneca : beliau ini kalau dikatakan merupakan pejabat politik dan senator di Roma saat itu.

c.  Epictetus : beliau merupakan seorang budak yang tersiksa hingga kemudian diasingkan, dari keadaannya ini kemudian ia belajar filasafat.

Uniknya yaitu yang membuat aliran ini menjadi begitu istimewa adalah orang-orang yang membawanya berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Begitu juga dimasa sekarang, siapa pun kita, berasal dari latar belakang apapun kita bisa menerapkan filsafat stoisisme ini.

Secara umum dengan bahasa yang sangat sederhana yang dapat penulis rangkum mengenai aliran Stoisisme terdapat 4 hal penting, diantaranya yaitu :

a)   Tuhan akan memberikan perhatian dalam bentuk apapun pada makhluk hidup dan seluruh isi alam semestanya.

b)   Memiliki hidup yang penuh kebajikan dan kebijaksanaan sangat penting untuk kebahagiaan sebagai makhluk hidup.

c)    Alam semesta bekerja secara harmoni, maka kita sebagai makhluk hidup juga harus bekerja dengan harmoni pada alam semesta. Dalam artian harus memiliki timbal balik (mutualisme)

d)   Semua hal yang terjadi pada alam semesta berupa hal baik atapun buruk yang terjadi pasti sudah diatur oleh kekuatan besar diluar diri manusia. Sehingga kita tak perlu rumit memikirkan dan mengurus hal yang sudah terjadi dimasa lampau, atau yang sedang terjadi maupun kedepannya.

Sebelumnya kita dapat menerapkan stoisisme dalam kehidupan kita dewasa ini, kita harus tau apa yang membedakan kita sebagai manusia dengan makhluk hidup lainnya. dalam buku Sapiens oleh Yuval Noah Harari menerangkan bahwa yang membedakan kita dengan makhluk hidup lainnya adalah “pemikiran yang rasional” kalau orang kebanyakan pada umumnya mengatakan bahwa “manusia itu punya akal, sedangkan makhluk hidup lainnya tidak memiliki akal” dengan kata lain apabila kita bertindak secara harmonis dengan alam semesta maka harus menggunakan akal atau dengan pemikiran yang rasional.

Contoh : apabila kita mengalami sesuatu hal seperti kehilangan barang, pekerjaan, pertemanan atau sejumlah uang. Gimana sih orang rasional bertindak menyikapi hal ini ? nahh… orang yang rasional tidak akan mengeluh, marah-marah dan frustrasi dalam menghadapinya, mereka bahkan berfikir kembali kedalam dirinya sebagai refleksi untuk perbaikan diri kedepannya. Namun sebaliknya orang yang irrasional atau orang yang tidak menggunakan akalnya akan menangis, kesal atau menyesalkan keadaan yang terjadi.

Epictetus yang pernah disiksa sebagai budak secara terus menerus bertahun-tahun, namun dalam keadaannya ia tetap bisa menjaga rasionalnya dengan tetap memegang stoisisme tersebut. Sedangkan kita yang tertimpa masalah sedikit saja masih mudah mengeluh dan tidak bersyukur, yang seharusnya orang yang rasional itu bisa bersyukur dan menjadikan keadaan tersebut sebagai pelajaran untuk milestone selanjutnya. Untuk hidup saja kita sudah sangat hoki dan memiliki tempat tinggal yang nyaman dibumi ini. Kenapa hal kecil saja masih kita keluhkan? Orang yang stoic sangat beruntung karena bisa menjaga emosi dalam keadaan apapun yang menimpanya. stoisisme ini dapat dikatakan aliran yang memanusiakan manusia.

Sangat relevan bukan apabila Stoisisme ini diterapkan dalam kehidupan yang singkat ini ? yuk mari share pengalaman amigo terkait stoisisme ini ? atau mari saling berkongsi fikiran dan bertukar informasi.

   

 

Komentar

  1. Saya pribadi menganggap konsep stoisme sendiri adalah bentuk kebijaksanaan dalam menjalani hidup. Sikap tenang dan etika yang dijunjung tinggi membuat stoisme cukup digandrungi pada saat itu. Dan banyak pula para stoik membawakan gagasan tersebut, demi kelangsungan kestabilan dan kebijaksanaan. Jangan luput pula, bahwa konsep stoa seputar kematian menjadi bahan perbincangan selain dari etika-etika dalam kehidupan. Paham stoa sendiri menolak segala bentuk intervensi keburukan dan ketidakbaikan yang menggerus nalar. Dan cara terbaiknya adalah dengan memutuskan itu semua yang tanda kutip "takut akan hal-hal". Kendati demikian, stoa menjadi minat untuk hidup yang tidak dikelilingi oleh keinginan yang besar.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer