MENILIK KOPI

MENILIK KOPI : DARI SEGI HISTORIS HINGGA DEWASA INI

Oleh

Arkini Sabrina 

            Dewasa ini berbicara mengenai kopi dan coklat merupakan minuman yang sangat digandrungi oleh khalayak ramai. Tapi tau ga gimana kopi tersebut bisa sampai ke tangan kita hingga saat ini dan dapat kita seduh lalu kemudian diminum dan dinikmati ? Mari disimak… Kopi telah ada sejak abad ke-9 dimana wilayah yang pertama kali ditanam pada dataran tinggi Ethiopia. Dari sini kemudian menyebar luas lalu kemudian hingga sampai dibawa ke Indonesia oleh orang Eropa. Kemudian sampailah Biji kopi hingga ke Nusantara khususnya di pulau Jawa lalu dibudidayakan untuk keperluan pemasaran dunia dimulai sejak abad ke-18 ketika perusahaan dagang Belanda yaitu VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) datang menjelajah diberbagai bagian dikepulauan Nusantara dengan membawa kopi jenis Arabica. Ternyata, tanaman kopi ini sangat cocok dan dapat tumbuh dengan baik di wilayah pedalaman.

            Setelah VOC kemudian mengalami gulung tikar pada tahun 1799,  usaha penanaman dan pengembangan kopi tidak begitu berkembang seperti yang sebelumnya. Namun akhirnya kopi kembali berkembang pada saat momentum masa kebijakan Tanam Paksa. Kopi kemudian menjadi tanaman primadona yang mendatangkan keuntungan oleh pemerintah kolonial Belanda. Priangan merupakan salah satu daerah di Jawa yang dijadikan sebagai batu tumpuan untuk penanaman kopi. Suksesnya penanaman kopi di pulaua Jawa akhirnya menjamur hingga ke pulau Sumatera khususnya di Tapanuli. Kopi nya yang sangat terkenal hingga saat ini yaitu Kopi Mandailing. Frans Junghun yang merupakan seorang ahli tanaman dan antropolog mengatakan bahwa tanah disekitar pegunungan Mandailing dan Angkola sangat cocok untuk ditamani kopi. Hasil riset Junghun kemudian dieksekusi pada penelitian lanjutan mengenai budaya penduduk yang dilakukan oleh van der Tuuk. Ia telah mempelajari bahasa penduduk pedalaman seperti Karo, Mandailing, dan Toba. Hasil riset tersebut membuka peluang besar bagi Belanda untuk mengembangkan kopi di wilayah ini. Hingga akhirnya berdasarkan Besluit Gubernur Jendral Hindia Belanda pada tanggal 6 April tahun 1853 bahwa keresidenan Tapanuli sebagai wilayah kedelapan yang dijadikan sebagai wilayah perluasan budidaya kopi.

            Melihat pada fenomena masa kini bahwa kopi menjadi minuman yang sangat digemari oleh masyarakat, dapat dilihat bahwa kedai-kedai kopi sudah banyak menjamur diberbagai belahan sudut kota di Indonesia. Oleh mereka sebagai penikmat kopi tidak afdol rasanya apabila tidak ditemani dengan sebatang rokok, hal ini terjadi karena adanya mitologi yang berkembang dimasyarakat bahwa kopi dipercaya sebagai penawar dari nikotin yang terkandung didalam rokok tersebut. Namun hal ini mungkin diperlukan pengkajian kembali untuk diuji kebenarannya. Kopi juga bahkan menjadi sebuah simbol budaya kelas masyarakat. Hal ini tercermin dari harga yang diletakkan pada secangkir kopi yang disajikan, kemudian merk atau pun brand yang ada pada kopi tersebut.

            Di abad 21 ini pengaruh globalisasi dan modernisasi dengan mudah masuk ke Indonesia. Modernisasi kemudian di tandai dengan berubahnya sikap dan prilaku, kemudian adanya revolusi pengetahuan melalui sarana komunikasi, industrialisasi, urbanisasi dan teknologi yang maju. Dari modernisasi ini lah kemudian muncul sebuah life style Barat yang kemudian nilai-nilai budaya yang sebelumnya akhirnya ditanggalkan. Adanya industri yang berkembang meroket yang memproduksi barang dan jasa kemudian menawarkan kemewahan dan instan pada masyarakat. Menjadikan masyarakat pun berperilaku konsumtif. Perilaku konsumtif ini tidak hanya sebagai pemenuhan kebutuhan saja tetapi juga sebagai pemenuhan simbol semata. Perilaku ini lah yang kemudian menjadi gaya hidup yang di amal kan dalam kehidupan keseharian oleh masyarakat dewasa ini.

            Dalam hal ini perilaku konsumtif berfokus pada budaya minum kopi yang biasa dilakukan oleh mereka “si penikmat kopi” di kedai-kedai kopi yang dikemas secara elegan. Minum kopi pada masyarakat perkotaan menjadi bagian dari gaya hidup, bagi mereka yang hidup di kota dapat menikmati kopi yang disajikan di outlet seperti Starbucks, Janji Jiwa, Kopi Kenangan, Kopi dari Hati, J’Co dan lain sebagainya. Menurut hemat penulis, hal ini dimanfaatkan oleh produsen dan pemasar untuk  memasarkan bisnisnya yang kemudian akhirnya bergeser pemaknaan fungsi kedai kopi yang menjual gaya hidup hingga dikejar oleh masyarakat kini agar supaya disebut sebagai orang modern.

            Perkembangan konsumsi minum kopi yang dulunya dilakukan diwarung-warung kopi yang peminumnya dominan laki-laki dimana warung tersebut menyajikan kopi hitam atau tubruk yang kemudian ditemani dengan cemilan gorengan. Bentuk warung nya pun masih sederhana sehingga penikmat kopi bisa melakukan segala aktifitas atau pun berbagai cerita didalamnya. Namun sangat jarang sekali saat ini kita lihat fenomena tersebut yang mungkin dapat kita jumpai diwilayah pinggir kota. Kesadaran masyarakat akan membangun brand awareness sangat minim sekali.

Apabila kita meninjau kembali bahwa  kopi yang kita konsumsi sebenarnya merupakan produk lokal yang kemudian di eksport hingga akhirnya diolah dengan sedemikian rupa kemudian dipasarkan kembali. Dalam hal ini edukasi terhadap kopi sangat diperlukan. Bagi mereka yang memiliki kesempatan untuk mengolah kopi dengan mengemasnya dengan menarik tak lupa pula penanaman kesadaran terhadap kopi produk lokal juga dilakukan dengan edukasi pengenalan agar kita dapat lebih memahami dan mencintai produk kita sendiri. Untuk amigo’s yang punya pengalaman terkait kopi, mari kita saling berbagi dan bertukar informasi…

Referensi :

Agustono, Budi, dkk. 2019. Sejarah Kopi Mandailing, Yogyakarta : Ombak.

Breman, Jan, Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa : Sistem Priangan dari Tanam Paksa Kopi di Jawa 1720-1870

Solikatun, dkk, “Perilaku konsumsi kopi sebagai budaya masyarakat konsumsi : Studi Fenomenologi pada Premium Kopi di kedai kopi Semarang” Jurnal Analisa Sosiologi, 2015.

 

 

Komentar

Postingan Populer