AGNOSTISISME OR AGNOSTIK
Timbulnya Sebuah
Keragu-raguan
Oleh
Arkini Sabrina
Berbicara mengenai Agnostik, tak ketinggalan pula ia dengan istilah Atheis dan Theis. Ketiganya memiliki relevansi yang memungkinkan dan posisinya berada di tengah-tengah keduanya. Banyak sekali yang mengaitkannya juga dengan persoalan Agama pada ketiga istilah tersebut. Jika kita bertanya pada kaum agnostik terhadap keberadaan tuhan maka posisi mereka dengan jawaban ‘tidak tahu’ tetapi jika kita bertanya pada kaum theis mereka akan mempercayai keberadaan tuhan dan menjawab ‘iya’, dan beda lagi dengan kaum Atheis yang tidak percaya sama sekali akan keberadaan tuhan dan tentunya jawaban mereka adalah ‘tidak’. Disinilah terlihat bahwa posisi seorang agnostik berada di tengah-tengah.
Kaum agnostik melibatkan dirinya pada sebuah prinsip dan perenungan terhadap pengetahuan dan bagaimana cara memperolehnya, mereka menyebutnya sebagai hasil perjuangan intelektual. Gambaran dari agnostik ini adalah buah dari pemikiran yang sangat hati-hati dan bukan merupakan produk dari kegagalan berfikir namun mengarah pada kritikan yang berlanjut. Dalam hal ini mereka harus mencari kepastian yang mutlak namun kepastian tersebut hampir tidak bisa diperoleh pada semua permasalahan.
Belajar Agnostik menurut hemat penulis itu sangat penting, sedikit membahas mengenai hal tersebut, nah dalam hal ini bukan berarti Nietzsche, Mark atau para filsuf lainnya itu adalah kafir, tetapi coba pahami apa yang di sindir oleh Betrand Russel bahwa ia percaya pada tuhan tetapi ia tidak percaya pada ajaran-ajaran agama tersebut, secara sederhananya ia melihat bahwa orang-orang yang menjalankan agama itu tidaklah rasional. Misalnya seperti dalam ajaran agama Hindu, Sapi adalah hewan yang sangat disakralkan dan tidak boleh dimakan. Nahh… Russel sangat butuh akan penjelasan yang rasional terkait hal tersebut.
Agnostik tidak hanya mempersoalkan mengenai keberadaan atau eksistensi tuhan saja dan persoalan agama lainnya, kita mungkin bisa bersikap agnostik pada persoalan lainnya dalam kehidupan ini. Banyak hal yang harus kita pertanyakan secara rasional dan hal-hal tersebut yang mungkin sangat tidak bisa diterima oleh akal kita.
Dalam hal ini agnostisisme lebih kearah epistemologis yaitu cara berfikir atau pemahaman, apabila atheisme membicarakan mengenai kondisi mental atau ketidak percayaan. Banyak sekali orang yang salah paham terkait agnostik. Banyak yang mengatakan bahwa agnostik lebih kafir dari atheis namun apa benar sih ?... mari kita bahas secara seksamaa..
Asal kata agnostik berasal dari gnostik yang merupakan lawan dari kata tersebut, maka dari itu ada istilah gnostik dan agnostik. Secara sederhana gnostik dapat diartikan sebagai ‘tahu’ yang berarti manusia tahu apa saja termasuk hal yang paling rahasia sedangkan agnostik justru sebaliknya ‘tidak tahu’ yang berarti manusia itu tidak tahu apa pun dan fikirannya juga sangat terbatas. Dasar epistemologisnya manusia berasal dari ketidak tahuannya, dan ini merupakan istilah umum yang dipakai dan tidak ada hubungannya dengan agama, namun akhir-akhir ini istilah agnostik dipakai secara populer dan dikaitkan dengan agama. Dalam hal ini berarti akal fikiran manusia terbatas untuk memahami tuhan.
Daya berfikir setiap manusia pastinya berbeda-beda, tidak semua manusia berfikir secara seragam. Dan pastinya gambaran tentang tuhan dalam fikiran manusia pasti berbeda-beda pula. Pandangan ini berlaku untuk agama apapun tidak mengerucut pada satu agama saja. Dari sinilah dapat dilihat banyaknya timbul aliran-aliran dalam agama tersebut karena cara memandang tuhan tadi berbeda-beda oleh manusianya. Maka dari itu seperti kata kaum agnostik, kita tidak bisa menjangkau tuhan, apalagi eskatologi akhirat, surga, neraka, dan sebagainya itu tidak dapat dijangkau. Nahh.. ini lah defenisi secara umumnya.
Ternyata pada tahun 1869 orang pertama yang mencoba mencetuskan istilah dari agnostik adalah Thomas Huxley, dan ia pula yang mempopulerkan filsafat perenial. Tetapi untuk analisis mengenai agnostik sendiri bukan Huxley lah orang pertamanya, namun sebelumnya sudah banyak yang berfikir secara agnostik.
Sebenarnya agnostik juga satu rumpun atau cabang dari skeptis yang berarti selalu bertanya dan selalu curiga, Protagoras adalah orang yang sangat kritis terhadap agama-agama dimasa Yunani sehingga ia di musuhi oleh orang-orang Yunani sampai buku-bukunya pun dibakar. Bahkan Sokrates juga dalam berfikir memiliki gaya agnostik, dan agnostik ini merupakan cara berfikir yang baik.
Agnostisisme sendiri identik dengan skeptisisme yang akan bertanya terus karena tidak dapat percaya begitu saja dengan apa yang telah diterima. Dan untuk kesehatan akal kita penulis rasa sebaiknya kita mencoba untuk menjadi seorang yang berfikir agnostik, yang berarti tidak gampang percaya dengan berita yang beredar dimasa sekarang. Perlu adanya pencarian yang lebih lanjut untuk mendekati kebenaran.
Hingga sampai hari ini kita disuguhkan dengan berita-berita hoax yang beredar dan tanpa berfikir panjang kita menelannya secara mentah tidak memfilter terlebih dahulu, mirisnya bahwa manusia sekarang kebanyakan orang bersikap gnostik dengan menerima segala apapun, dapat berita langsung yang beredar pun dipercaya begitu saja tidak dipertanyakan kembali dan dicari tahu kebenarnnya. Padahal sebagai makhluk yang sangat sempurna kita diberi akal yang sangat berharga untuk berfikir dan mempertanyakan segala sesuatu.
Manusia tidak mungkin mendapatkan pengetahuan yang hakiki, dan pengetahuan yang didapat manusia hanya sampai batas berfikirnya saja. Pada pembahasan sebelumnya dapat dikatakan bahwa agnostik satu rumpun dengan skeptis dari sini kita akan melihat perbedaan keduanya meskipun mereka serupa namun tak sama, Agnostik sendiri fokus pada subjeknya yang artinya orangnya, sedangkan skeptis fokusnya pada objeknya yaitu materialnya, dari sinilah objek itu sangat sulit dipahami.
Sering muncul pemberitaan di televisi mengenai bom bunuh diri, penembakan dan lainnya, nahh.. kaum agnostik akan mengkritisi perbuatan orang-orang tersebut yang dianggapnya sangat tidak rasional. Timbul pertanyaan dalam benak mereka bahwa apa benar yang mereka perjuangkan seperti bom bunuh diri dan lainnya adalah perbuatan yang benar ? jangan-jangan itu hanya presfektif mereka saja yang menganggapnya benar. Sangat penting sekali pikiran-pikiran tersebut di munculkan.
Huxley pun membagi agnostisisme menjadi dua :
1. Positif
Untuk paradigma ini apabila kita mau menjadi seorang agnostik dalam pusaran intelektual, maka akal sehat sangat dibutuhkan dan harus diikuti, terlebih lagi tidak berfikir yang negatif maka berfikirlah sebebas mungkin dan tidak boleh ada batasan menurutnya.
2. Negatif
Sedangkan untuk pandangan ini bahwa dalam dunia intelek juga ia menyarankan untuk tidak berpura-pura bahwa kita telah mentok pada sebuah kesimpulan yang belum ada buktinya maka hal tersebut hendaknya dipertanyakan.
Agnostik tidak selalu jatuhnya menjadi seorang atheis, hanya saja ia mempertanyakan lebih dan selalu mengandalkan akal pikirannya. Maka dari itu banyak tokoh yang murtad atau bahkan sebaliknya dalam artian sangat jarang sekali seperti tokoh Richard Dawkins atau Betrand Russel mengatakan bahwa dirinya seorang agnostik, kebanyakan dari mereka menyatakan dirinya atheis, padahal kalau diberi bukti dan dikupas secara rasional maka mereka bisa percaya.
Disini juga terlihat beda antara agnostik dan agnostisisime, untuk agnostik itu lebih kepada sikap mental. Sama juga seperti skeptis dan skeptisisme. apabila di dunia intelek kita harus skeptis, bersikap skeptis ga harus selalu percaya, nah agnostik ini mirip seperti skeptis, selalu mempertanyakan tapi tidak jatuhnya menajadi skeptisisme, sedangkan skeptisisme itu tidak percaya pada apapun, semua nya layak dipertanyakan, sama seperti agnostisisme. Karena kalau sudah ada ‘isme’ nya berarti sudah menjadi ideologi dan sudah tertutup.
Maka dari itu perlu juga bagi kita untuk bersikap agnostik skeptis, yang berarti kita mungkin ujungnya akan percaya tetapi kita pertanyakan dulu bagaimana prosesnya. Mungkin kalau dikupas secara mendalam soal agnostik ini, maka akan sangat membosankan membacanya. Ini sebagai pemantik kitaa untuk mencari tahu kebenaran-kebenaran lainnya, tidak ada kebenaran yang abadi tetapi kebenaran yang absolut hanya milik tuhan. yokk marii kita berkongsi fikiran, dari temen-temen jika punya fikiran yang lainnya terkait pembahasan kali ini boleh nimbrung dikolom komentar untuk menambah ilmu pengetahuan kita bersama, sekian dari saya. See u next time..
Komentar
Posting Komentar