KOTA BAGHDAD : NOSTALGIA DI DUNIA TIMUR TENGAH
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dimasa Abbasiyah
Oleh
Arkini Sabrina
Pengantar
Berdirinya Dinasti Abbasiyah berawal sejak merapuhnya kekuasaan Bani Umayyah yang berujung pada keruntuhan Dinasti Umayyah di Damaskus. Dengan segala konflik yang ada pada tubuh Bani Umayyah, menjadikankan Bani Abbasiyah maju sebagai pengganti kepemimpinan umat Islam. Wajah revolusi kepemimpinan Abbasiyah terhadap Umayyah banyak mendapatkan simpati dari masyarakat, terutama dari kalangan Syi’ah. Dukungan itu hadir disebabkan janji untuk menegakkan kembali keadilan seperti yang dipraktikkan oleh Khulafaurrasyidin[1]. Nama Dinasti Abbasiyah diambil dari nama salah seorang paman Nabi Muhammad yang bernama al-Abbas ibn Abd al-Muthalib ibn Hisyam. Dinasti ini didirikan oleh Abdullah al-Saffah ibn Muhammad Ibn Ali Ibn Abdullah Ibn al-Abbas[2].
Ali Ibn Abdullah Ibn Al-Abbas yang dekat dengan khalifah Umayyah. Sehingga, Khalifah Al-Walid Ibn Abd Al-Malik memberi kepada Ali sebuah tempat bernama Humaymah, dekat Damaskus. Humaymah merupakan tempat yang tentram. Namun keadaan berubah ketika Al-Imam Muhammad bin Ali, memiliki keinginan meletakkan dasar-dasar kekuasaan deangan cara merebutnya dari bani Umayyah[3].
Kemunculan Dinasti Abbasyiah merupakan revolusi dalam sejarah Islam yang pada saat revolusi berlangsung tidak melalui kudeta terhadap pemerintahan pada Dinasti Ummayah. Muhammad bin Ali mulai melakukan pergerakannya dengan beberapa langkah yaitu : pertama, membuat propaganda untuk menghasut rakyat menentang kekuasaan Umayyah. Kedua, membentuk faksi-faksi Hamimah (pengikut Syiah), faksi Kufah (Bani Abbas) dan faksi Khurasan (Mawali). Ketiga, faksi ini bersatu dalam satu tujuan yaitu menumbangkan dinasti Umayyah. Dasar pemikiran pengambilalihan kekuasaan didasari oleh pandangan bahwa yang berhak untuk berkuasa yaitu keturunan Rasulullah SAW yang merupakan orang suci sehingga keturunannya pasti dianggap baik. Pemikiran yang demikian dianggap relevan kala itu, karena Rasulullah adalah utusan Allah SWT untuk memimpin umat. Pemikiran tersebut kemudian melahirkan kebencian dan kemarahan terhadap dinasti Umayyah[4].
Setelah meruntuhkan Dinasti Umayyah dengan cara membunuh Marwan sebagai khalifahnya, pada tahun 750 M, Abu al-‘Abbas mendeklarasikan dirinya sebagai khalifah pertama Dinasti Abbasiyah. Ketika Abbas menjabat khalifah, dia diberi gelar al-Saffah yang berarti penumpah atau peminum darah. Sebutan tersebut diberikan karena dia mengeluarkan dekrit kepada gubernurnya yang berisi perintah untuk membunuh tokoh-tokoh Umayyah. Bukan hanya itu saja, al-Saffah juga melakukan perbuatan keji dengan menggali kuburan para khalifah Bani Umayyah (kecuali Umar II), dan tulang-tulangnya dibakar. Berdirilah sebuah Dinasti menuju kekuasaan yang bersifat internasional, dengan asimilasi corak pemikiran dan peradaban Persia, Romawi Timur, Mesir dan sebagainya. Al-Saffah menjadi pendiri Dinasti Arab Islam ketiga – setelah Khulafaurrasyidin dan Dinasti Umayyah yang sangat besar dan berusia lama[5].
Sebelum wafat, al-Saffah mengangkat saudaranya Abu Ja’far dengan gelar alMansur (754-775) yang artinya “Sultan Tuhan di atas bumi-Nya”. Ia adalah khalifah terbesar Dinasti Abbasiyah, meskipun bukan seorang muslim yang saleh, dialah sebenarnya yang membangun Dinasti, tiga puluh lima orang khalifah berasal dari keturunannya. Madinah as-Salam, nama resmi kota al-Mansur atau Al-Mudawwarah (kota lingkaran), gerbang emas; kubah biru ‘al-qubbah al-khadhra’. Al-Mansur berbadan tinggi, berkulit gelap dan berjanggut tipis, gigih dan tegas. Berbagai kebijakannya dijadikan acuan bagi para penerusnya, sebagaimana kebijakan Muawiyyah menjadi acuan bagi khalifah-khalifah Umayyah. Masa kekuasaan ini berhasil mencapai kejayaan dan kemegahan yang tidak ada tandingannya pada abad pertengahan, kecuali mungkin oleh Konstantinopel. Menjadi pewaris kekuatan dan prestise kota Ctesiphon, Babilonia, Nineceh, Ur, dan ibukota-ibukota bangsa Timur Kuno[6].
Peradaban Islam mengalami puncak kejayaan pada masa dinasti Abbasiyah. Perkembangan ilmu pengetahuan sangat maju, kemajuan ilmu pengetahuan diawali dengan penerjemahan naskah-naskah asing terutama yang berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, pendirian pusat pengembangan ilmu dan perpustakaan Bait al-Hikmah, dan terbentuknya mazhab-mazhab ilmu pengetahuan dan keagamaan sebagai buah dari kebebasan berpikir. Popularitas Dinasti Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun al-Rasyid (786- 809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al-Rasyid untuk keperluan sosial; rumah sakit, lembaga pendidikan, dokter, dan farmasi didirikan[7].
Sejak upaya penerjemahan meluas dan sekaligus sebagai hasil kebangkitan ilmu pengetahuan, banyak kaum muslimin mulai mempelajari ilmu-ilmu itu langsung dalam bahasa Arab sehingga muncul sarjana-sarjana muslim yang turut mempelajari, mengomentari, membetulkan buku-buku penerjemahan atau memperbaiki atas kekeliruan pemahaman kesalahan pada masa lampau, dan menciptakan pendapat atau ide baru, serta memperluas penyelidikan ilmiah untuk mengungkap rahasia alam, yang dimulai dengan mencari manuskrip-manuskrip klasik peninggalan ilmuwan Yunani kuno, seperti karya Aristoteles, Plato, Socrates, dan sebagainya. Manuskrip-manuskrip tersebut kemudian dibawa ke Baghdad lalu diterjemahkan dan dipelajari di perpustakaan yang merangkap sebagai lembaga penelitian al-Baitul Hikmah, sehingga melahirkan pemikiran-pemikiran baru.
Sebanyak 37 khalifah yang pernah menjadi pemimpin pada masa kekuasaan Bani Abbasiyah, dan masa keemasannya dimulai antara masa khalifah ketiga al-Mahdi, dan hingga khalifah ke sembilan, al-Watsiq, dan khususnya pada masa Harun al-Rasyid dan anaknya al-Ma’mun. Setelah itu Dinasti Abbasiyah mulai mengalami penurunan dan pada akhirnya runtuh. Pada masa khalifah al-Mustassim, dia orang yang lemah, tidak berpendirian, dan suka bersenang-senang. Pemerintahannya terus-menerus dalam kericuhan di dalam negeri, dan bencana yang datang dari luar yang puncaknya adalah kehancuran dinasti Abbasiyah.
Kota Baghdad merupakan kota ketiga yang menjadi pusat peradaban Islam, kota ini sudah dikenal sebelum masuknya Islam. Sebuah dokumen dari raja Hammurabi (Raja Babilonia tahun 1792-1750 SM) menyebut kata Baghdad. Ini menunjukkan bahwa nama Baghdad sudah digunakan sebelum masa raja Hammurabi. Namun sebelumnya Baghdad telah dihuni oleh manusia sejak tahun 4000 SM. Daerah ini merupakan bagian dari kerajaan Babilonia Kuno. Dari tahun 500 SM hingga tahun 600 M, secara bergantian Baghdad dikuasai oleh kerajaan Persia, Yunani, dan Romawi. Setelah kedatangan Islam Bangsa Arab menguasainya hingga sekarang[8].
Baghdad adalah kota kuno yang terletak antara sungai Tigris dan Eufrat. Di masa Rasullah, kota ini menjadi sebuah kota pasar dan ketika Khalifah Al-Manshur mengunjunginya, pasar-pasar tersebut telah lenyap dan digantikan menjadi biara-biara Kristen[9]. Pasukan Islam berhasil menguasi Baghdad pada masa khalifah Umar bin Khattab. Panglima tentara Islam yang berhasil menakhlukannya adalah Sa’ad bin Abi Waqqas. Penduduk Baghdad akhirnya dapat menerima Islam sebagai agama mereka sehingga Islam menjadi agama mayoritas. Pada mulanya Baghdad hanyalah kampung kecil di tepi Sungai Tigris. Kemajuan pesat baru terjadi ketika Abu Ja’far al-Mansur, khalifah ke-2 dinasti Abbasiyah, membangunnya dan menjadikannya sebagai ibu kota dinasti Abbasiyah pada tahun 762 M.
Dinasti Abbasiyah yang mengambil alih kekuasaan dari Dinasti Umayyah yang berpusat di Damaskus, tidaklah bersahabat dengan orang-orang dari Dinasti Abbasiyah. Damaskus merupakan kota yang jauh dari Persia, sehingga menjadikan pendiri Abbasiyah pertama yaitu Abu Al-Abbas Al-Saffah, mulai mencari tempat untuk dijadikan pusat pemerintahannya. Ia memilih Kufah, Irak, hingga dia meninggal. Setelah meninggalnya khalifah yang pertama yaitu Al-Saffah, tambuk pemerintahan dipegang oleh saudaranya yaitu Abu Ja’far Al-Manshur, yang menjadi khalifah kedua Dinasti Abbasiyah. Khalifah Al-Manshur melakukan pencarian kota yang baru, hingga akhirnya menemukan lokasi sebuah dusun kecil Persia bernama Baghdad.
Meskipun latar belakang berdirinya Dinasti Abbasiyah banyak menggalami tantangan, Namun Dinasti Abbasiyah ini yang berpusat di Baghdad merupakan zaman kemajuan atau kejayaan pemerintahan Islam yang tertulis dalam sejarah Islam. Pada masa inilah Islam berkembangan menjadi peradaban Dunia. Seperti seni, ilmu filsafat dari irak india dan yunani, selanjutnya di terjemahkan sebagai hasil peradaban Islam. begitu pula kedalam lapangan agama Islam telah masuk ajaran atau sistem filsafat dan tasawuf, sehingga cara-cara untuk meluaskan ajaran agama telah bertambah luas pula.
Khalifah Al-Manshur sangat teliti dalam masalah lokasi yang akan dijadikan ibu kota. Ia menugaskan beberapa orang ahli untuk meneliti dan mempelajari lokasi. Bahkan, ada beberapa orang di antara mereka yang diperintahkan tinggal beberapa hari di tempat itu pada setiap musim yang berbeda, kemudian para ahli tersebut melaporkan kepadanya tentang keadaan udara, tanah dan lingkungan. Setelah penelitian dilakukan pada daerah ini kemudian pembangunan pun di mulai. Baghdad yang memiliki wilayah yang strategis, cukup menjadi syarat sebagai ibu kota yang diperlukan oleh Khalifah al-Mansur[10].
Dalam pembangunan kota ini, khalifah memperkerjakan ahli-ahli bangunan yang terdiri dari arsitektur, tukang batu, tukang kayu, ahli pahat ahli lukis dan lainnya yang didatangkan dari Syria, Mosul, Basrah, dan Kufah. Jumlah mereka sekitar 100.000 orang dipimpin oleh Hajjaj bin Artha dan Amran bin Waddlah[11]. Abu Ja’far al-Manshur membiayai biaya pembangunan Baghdad sebesar 4.883.000 dinar. Dengan dana yang begitu besar, dibangunlah infrastruktur dan bangunan megah seperti Istana, Masjid, jembatan, saluran air, dan berbagai benteng serta kubu pertahanan yang sulit ditembus.
Di ibu kota yang baru ini Al-Manshur melakukan konsolidasi dan penerbitan pemerintahannya, dengan membuat semacam lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru dengan mengangkat Wazir sebagai koordinator dari kementrian yang ada, Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal dari Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol Negara, sekretaris Negara, dan kepolisian Negara disamping membenahi angkatan bersenjata. Dia menunjuk Muhammad Ibnu Abdurrahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman Negara. Jawatan pos yang sudah ada sejak masa Dinasti Umayyah ditingkatkan peranannya dengan tambahan tugas yang dulu hanya sekedar untuk mengantar surat. Pada masa Al-Manshur. Jawatan pos ditugaskan untuk menghimpun seluruh informasi didaerah-daerah sehingga administrasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan pos bertugas melaporkan kegiatan gubenur setempat kepada khalifah.
Perkembangan Ilmu Penghetauan
Sejak awal berdirinya, kota ini sudah menjadi pusat peradaban dan kebangkitan ilmu pengetahuan dalam Islam. Itulah sebabnya, Philip K. Hitti menyebutnya sebagai kota intelektual. Menurutnya, di antara kota-kota dunia, Baghdad merupakan professor masyarakat Islam. Al-Mansur memerintahkan penerjemahan buku-buku ilmiah dan kesusastraan dari bahasa asing seperti India, Yunani, Bizantium, Persia, dan Syiria. Para peminat ilmu dan kesusastraan segera berbondong-bondong datang ke kota ini[12].
Setelah masa pemerintahan al-Mansur, kota Baghdad menjadi lebih masyhur karena perannya sebagai pusat perkembangan peradaban dan kebudayaan Islam. Banyak para ilmuwan dari berbagai daerah datang ke kota ini untuk mendalami ilmu pengetahuan. Kota Baghdad sampai pada masa keemasan terjadi pada zaman pemerintahan Khalifah Harun al Rasyid (786-809 M) dan anaknya al-Makmun (813-833 M). Dari kota inilah memancar sinar kebudayaan dan peradaban Islam ke seluruh dunia. Aktivitas politik, supremasi ekonomi, dan aktivitas intelektual merupakan tiga keistimewaan kota tersebut. Baghdad ketika itu menjadi pusat peradaban dan kebudayaan yang tertinggi di dunia, Ilmu pengetahuan dan sastra berkembang sangat pesat. Banyak buku filsafat yang sebelumnya dipandang telah “mati” dihidupkan kembali dengan terjemahan ke dalam bahasa Arab. Khalifah al-Makmun memiliki perpustakaan yang dipenuhi dengan buku-buku ilmu pengetahuan. Perpustakaan itu benama Bait al-Hikmah.
Bait al-Hikmah merupakan perpustakaan yang juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Institusi ini merupakan kelanjutan dari institusi serupa di masa imperium Sasania Persia yang bernama Jundishapur Academy. Namun, berbeda dari institusi pada masa Sasania yang hanya menyimpan puisi-puisi dan ceritacerita untuk raja, pada masa Abbasiyah, institusi ini diperluas penggunaannya. Di masa Harun al-Rasyid, institusi bernama Khizanah al-Hikmah (Khazanah kebijaksanaan) yang berfungsi sebagai perpustakaan dan pusat penelitian. Sejak 815 M. al-Ma’mun mengembangkan lembaga ini dan diubah namanya menjadi Bait al-Hikmah. Pada masa ini, Baitul Hikmah dipergunakan secara lebih maju yaitu sebagai tempat penyimpanan buku-buku kuno yang didapat dari Persia, Bizantium, dan bahkan Ethiopia dan India. Di institusi ini, al-Ma’mun mempekerjakan Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi yang ahli dibidang aljabar dan astronomi[13].
Direktur perpustakaan Bait al-Hikmah sendiri adalah seorang nasionalis Persia dan ahli Pahlevi Sahl ibn Harun. Di bawah kekuasaan al-Ma’mun, Baitul Hikmah tidak hanya berfungsi sebagai perpustakaan tetapi juga sebagai pusat kegiatan studi dan riset astronomi dan matematika. Sejak pertengahan abad ke-9, Bait al-Hikmah dikuasai oleh satu mazhab penerjemah di bawah bimbingan Hunayn ibn Ishaq. Mereka menerjemahkan karya-karya keilmuan dari Galen serta karya-karya filsafat dan metafisika Aristoteles dan Plato. Di Baitul Hikmah terdapat juga observatorium astronomi untuk meneliti perbintangan. Baghdad juga sebagai pusat penerjemahan buku-buku dari berbagai cabang ilmu ke dalam bahasa Arab. Selain itu, banyak berdiri akademi, sekolah tinggi dan sekolah biasa yang memenuhi kota itu. Dua di antaranya yang terpenting adalah perguruan Nizhamiyyah, didirikan oleh Nizham Al-Mulk, wazir Sultan Seljuk, pada abad ke-5 H dan perguruan Mustansiriyah, didirikan dua abad kemudian oleh Khalifah Mustanshir Billah[14].
Pada masa Dinasti Abbasiyah, pendidikan dan pengajaran berkembang dengan sangat pesat sehingga anak-anak bahkan orang dewasa saling berlomba dalam menuntut ilmu pengetahuan. Tingginya nilai pendidikan dalam kehidupan, menyebabkan mayoritas masyarakat meninggalkan kampung halaman mereka untuk mendapatkan ilmu pengetahuan di kota, dan salah satu indikator berkembang pesatnya pendidikan dan pengajaran ditandai dengan tumbuh dan berkembangnya lembaga-lembaga pendidikan Islam.
Dalam dunia Islam sebelum munculnya lembaga pendidikan formal, masjid dijadikan sebagai pusat pendidikan. Fungsi masjid selain untuk tempat menunaikan ibadah juga dijadikan sarana dan fasilitas untuk pendidikan, diantaranya tempat pendidikan anak-anak, tempat-tempat pengajian dari ulama-ulama yang merupakan kelompok-kelompok (halaqah), tempat untuk berdiskusi dan munazharah dalam berbagai ilmu pengetahuan, dan juga dilengkapi dengan ruang perpustakaan yang berisikan buku-buku dari berbagai macam ilmu pengetahuan yang cukup banyak.
Selain masjid telah berkembang pula lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya baik yang bersifat formal maupun non-formal, lembaga-lembaga ini berkembang terus bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya bentuk-bentuk lembaga pendidikan baik non formal maupun formal yang semakin luas. Di antara lembaga-lembaga pendidikan Islam yang ada pada masa Dinasti Abbasiyah tersebut adalah:
1. Kuttab
Sebagai lembaga pendidikan dasar. Sewaktu agama Islam diturunkan Allah, sudah ada di antara para sahabat yang pandai tulis baca. Kemudian tulis baca tersebut ternyata mendapat tempat dan dorongan yang kuat dalam Islam, sehingga berkembang luas di kalangan umat Islam. Kepandaian tulis baca dalam kehidupan sosial dan politik umat Islam ternyata memegang peranan penting dikarenakan dari awal pengajaran al-Qur’an juga telah memerlukan kepandaian tulis baca, karena tulis baca semakin terasa perlu maka kuttab sebagai tempat belajar menulis dan membaca, terutama bagi anak-anak berkembang dengan pesat.
2. Perpustakaan dan Observatorium
Dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan yang terjadi pada masa Abbasiyah, maka didirikanlah perpustakaan dan observatorium, serta tempat penelitian dan kajian ilmiah lainnya. Pada lembaga ini, para penuntut ilmu diberikan kesempatan untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuannya. Tempat-tempat ini juga digunakan sebagai tempat belajar mengajar dalam arti yang luas, yaitu belajar bukan dalam arti menerima ilmu dari guru sebagaimana yang umumnya dipahami, melainkan kegiatan belajar yang bertumpu pada aktivitas siswa (student centris), seperti belajar dengan cara memecahkan masalah, eksperimen, belajar sambil bekerja (learning by doing), dan inquiry (penemuan). Kegiatan belajar yang demikian ini dilakukan bukan hanya di kelas, melainkan di lembaga-lembaga pusat kajian ilmiah[15].
3. Madrasah
Madrasah muncul pada masa Dinasti Abbasiyah sebagai kelanjutan dari pengajaran dan pendidikan yang telah berlangsung di masjid-masjid dan tempat lainnya, selain minat masyarakat yang semakin meningkat untuk mempelajari ilmu pengetahuan juga semakin berkembangnya berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan, dan untuk mengajarkannya diperlukan guru yang lebih banyak, sarana dan prasarana yang lebih lengkap, serta pengaturan administrasi yang lebih teratur. Sehingga melahirkan lembaga formal yaitu madrasah.
[1] D. Abdurrahman, . Sejarah Peradaban Islam: Masa Klasik Hingga Modern, Yogyakarta: LESFI. 2003. Hlm 118.
[2] Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta : Amzah, 2010, hlm 136
[3] Endang Saifuddin Anshar, Wawasan Islam Pokok-pokok Pikiran tentang Umat Islam dan Umatnya, Jakarta : Rajawai Press, 1990, hlm 28.
[4] Ajid Thohir, Studi Kawasan Dunia Islam, Perspektif Etno Lingustik dan Geo Politik, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 1997, hlm 47.
[5] Philip K. Hitti, History of The Arabs, (R. C. L. Y. & D. S. Riyadi, Trans.). Jakarta : PT Serambi Ilmu Semesta, 2002, hlm 358
[6] Ibid., hlm 360.
[7] F. Syukur, Sejarah Peradaban Islam. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra, 2009, hlm 98
[8] Muhammad Syafii Antonio. Ensiklopedia Peradaban Islam Baghdad, Jakarta: Tazkia Publishing, 2012, hlm 64.
[9] Ibid.,
[10] A. Hasjmy, Sejarah Kebudayaan Islam, Cet. IV, Jakarta: Bulan Bintang, 1993, hlm. 330.
[11] Philip K. Hitti, History of The Arabs., op.cit., hlm 88.
[12] Ibid., hlm 369
[13] D. Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam : Masa Klasik Hingga Modern. Yogyakarta: LESFI. 2003. Hlm 103-105.
[14] B. Yatim, Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada. 2008, hlm 281.
[15] A. Natta, Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana, 2011. hlm 181.
Komentar
Posting Komentar