Mempertanyakan Kembali Makna Nasionalisme
Mempertanyakan Kembali Makna Nasionalisme
Oleh
Arkini Sabrina
Buku yang di tulis oleh Benedict Anderson dengan judul Imagined Communities : Komunitas-komunitas Terbayang merupakan sebuah kritik terhadap pemahaman mengenai Nasionalisme yang hingga kini memiliki sudut pandang beragam yang tentunya Nasionalisme ini digunakan sebagai alat untuk melakukan perlawanan. Dalam bukunya ini Ben Anderson mencoba menggali Nasionalisme dari akar-akar budaya, asal mula kesadaran nasional dan lainnya. Buku ini juga diharapkan dapat memberikan sumbangan berharga atas penelusuran konsep nasionalisme kemudian meninjau dari sudut pandang historis tahapan-tahapan perjalanan sebuah bangsa.
Dalam karyanya ini Ben Anderson berupaya melakukan pembedahan ulang terkait dari makna Nasionalisme yang terjadi dalam sebuah negara, studi yang diangkat dalam buku ini membahas beberapa negara yaitu seperti Indonesia, Vietnam, Kamboja, Myanmar dan Thailand. Khususnya di Indonesia ketika sumpah pemuda yang dilaksanakan pada tahun 1928 memantik kembali dengan mempertanyakan apakah yang dimaksud dengan bangsa, dan bagaimana rasa kebangsaan tersebut. Merujuk kembali pada isi dari sumpah pemuda bahwa satu bahasa saja bahkan tidak membuat Indonesia menjadi satu bangsa, contoh nyatanya dapat dilihat dari konflik vertikal yaitu antara Gerakan Aceh Merdeka yang terjadi dengan pemerintah pusat tahun 1976 yang didasari atas konflik historis, adat istiadat, bahasa, bahkan teritori serta pembangunan yang hingga kini menjadi sebuah refleksi bagi kita akan makna sebuah bangsa tersebut. Tidak hanya itu, konflik lainnya juga terlihat seperti yang terjadi di Papua dan juga Timor-timor yang dalam hal ini peristiwa-peristiwa tersebut dapat membangkitkan hati nurani kita sebagai manusia dan mempertanyakan kembali arti sebuah bangsa tersebut.
Bangsa kemudian di bayangkan sebagai komunitas yang dalam hal ini dipahami sebagai keloyalitasan dan kesetiakawanan yang melebar, sehingga setiap orang dengan jumlah yang banyak tersebut dapat bersatu demi sesuatu yang terbayang yang disebut sebagai bangsa. Lalu apa kaitannya dengan nasionalisme, Sukarno dalam karyanya yang berjudul “Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme” berpendapat bahwa nasionalisme ialah suatu itikad, suatu keinsafan rakyat bahwa rakyat itu satu golongan, satu bangsa. Bangsa juga menurutnya yaitu suatu nyawa, asas akal yang terjadi atas dua hal, pertama, rakyat itu dulunya harus bersama-sama menjadi satu riwayat, kedua rakyat itu harus mempunyai kemauan dan keinginan untuk hidup menjadi satu.
Di sisi lain, nasionalisme bagi bangsa Indonesia dapat diartikan sebagai suatu kesatuan solidaritas masyarakat yang terbangun oleh perasaan kebersamaan akibat kesediaan saling berkorban dalam waktu yang panjang serta kesediaan untuk melanjutkan di masa kini dan masa yang akan datang dengan berlandaskan atas kebersamaan tersebut. Solidaritas atau kebersamaan tersebut terbangun bukan atas asal usul, suku, etnis, bahasa ataupun letak geografi yang sama melainkan atas pengalaman sejarah dan nasib bersama, pembentukan tersebut melalui proses yang panjang adanya perasaan senasib dan seperjuangan kemudian melahirkan sikap solidaritas.
Dalam hal ini media sangat berperan sebagai faktor dari pembentukan nasionalisme tersebut. Ide-ide kebangsaan disampaikan lewat media berupa koran-koran, radio maupun yang lainnya agar semua elemen masyarakat khususnya kaum pengerak dapat mengaksesnya. Tentu peran media sangatlah penting, Seperti yang terjadi di Thailand tahun 1992 terkenal dengan peristiwa Mei yang berhasil mendepak pemerintahan Suchinda Kraprayoon dari kekuasaan negara, tidak hanya itu di Filipina juga tahun 1986, gerakan people power berhasil mengusir Marcos dari kursi kekuasaan kepersidenan. Di Indonesia juga tahun 1998 banyak sekali terjadi peristiwa-peristiwa dimana peran mendia itu sangat bermain tentunya. Politik media sebagai produk dari perilaku yang berorientasi pada tujuan dari para aktor-aktor yang dalam konteks ini pembentukan nasionalisme tidak lepas dari peran media tersebut.
Pembentukan ide-ide kebangsaan juga tidak luput disampaikan lewat berbagai tulisan dan tentunya pertemuan antar sesama kaum pengerak juga akan menumbuhkan semangat dan gagasan kebangsaan tersebut. Lewat fasilitas berupa infrastruktur yang dibangun dimasa pemerintahan kolonial Belanda berupa gedung-gedung dan fasilitas lainnya yang dimanfaatkan mereka untuk kebutuhan dimasa tersebut dalam menyampaikan gagasan-gagasan kebangsaan tersebut lewat perbincangan-perbincangan yang erat demi persatuan bersama.
Akhir kata bahwa buku ini dapat menjadi refleksi atas pembacaan yang mungkin dapat di kaitkan dengan kondisi Indonesia pada masa kini, apakah kita sebagai rakyat Indonesia memahami jati diri kita dan dipersatukan atas dasar konsep kesamaan nasib dan sepenanggungan, atau memang ini merupakan warisan dari pemerintahan kolonial sehingga praktik-praktik kolonialisme dapat berjalan mulus dan kondisinya masih tetap berlanjut dalam konteks masa kini. Tentu pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sebuah PR yang besar bagi kita untuk terus berkembang dan produktif dalam hal baik kedepannya.
Referensi
Anderson, Bennedict. (2006). Imagined Communities : Komunitas - Komunitas Terbayang, Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Bresnahan, Rosallind, (2003). The Media and the Neoliberal Transition in Chile Democratic Promise Unfulfilled, Latin American Prespective. Issue 133, Vol 30 No. 6 November.
Soekarno, (2021). Nasionalisme, Islamisme, Marxisme. Yogyakarta : IRCiSoD.
Hobsbawm, EJ. (1992). Nasionalisme menjelang Abad 21, Yogyakarta : PT Tiara Wacana.
Komentar
Posting Komentar